Di hutan lebat perbatasan Krayan, Nunukan, pagi itu sinar matahari nyaris tak mampu menembus rimbunnya dedaunan. Namun, di tikungan Jalan Lingkar antara Krayan Induk dan Krayan Selatan, selembar bendera Dayak Borneo berkibar dengan gagah di bawah Sang Saka Merah Putih. Warna merah, kuning, dan birunya mencolok di tengah kontur jalan yang rusak parah — tanah berbatu, berlubang, dan berlumpur. Martinus, warga setempat, berdiri tegap di samping tiang bendera itu. Ia tak bicara banyak, tapi matanya tajam menusuk. Bagi Martinus, kibaran bendera itu bukan simbol perlawanan, melainkan lambang ketulusan budaya dan jeritan hati yang selama ini tertahan. Di beranda negeri ini, aspirasi mereka sesederhana, 'Jangan abaikan jalan kami.'
Jalan Rusak, Nadi Kehidupan yang Terputus
Jalan lingkar ini adalah urat nadi perekonomian Krayan. Namun, kondisinya menyayat hati. Setiap hari, warga pegunungan harus bergulat dengan medan yang tak bersahabat. Berikut adalah potret nyata dampak jalan rusak di Krayan:
- Hasil kebun seperti sayur mayur dan kopi sulit dievakuasi ke pasar; biaya transportasi membengkak hingga harga jual anjlok.
- Barang kebutuhan pokok tiba dengan harga selangit — minyak goreng, gula, dan beras menjadi barang mewah di meja makan.
- Saat ada warga sakit, ambulans tak bisa menjangkau; warga masih harus bergotong-royong menandu saudaranya berjalan belasan kilometer menuju puskesmas terdekat.
Bendera Dayak: Metafora Keresahan dan Kritik Konstitusional
Martinus menegaskan, aksi ini adalah penegasan bahwa mereka masih menghormati Ibu Pertiwi. Bendera Dayak Borneo yang berkibar di pinggir jalan yang hancur adalah kritik konstitusional yang halus namun tajam. Ia adalah suara dari beranda negeri yang merasa terabaikan. 'Jangan abaikan beranda negeri,' ujar Martinus dengan suara serak. Jika harapan tak kunjung datang, ancaman penyerahan pembangunan kepada investor asing — dengan imbal izin eksploitasi hutan — menggantung di udara. Ini bukan soal separatisme, melainkan keputusasaan warga penjaga perbatasan yang menuntut keadilan infrastruktur. Setiap kibaran bendera adalah detak jantung keresahan di garis depan.
Di ujung negeri, di Krayan, bendera Dayak Borneo terus berkibar. Bukan untuk melawan, tapi untuk mengingatkan. Kibaran itu adalah doa, harapan, dan sekaligus peringatan: bahwa beranda negeri ini adalah bagian tak terpisahkan dari Ibu Pertiwi. Sudah saatnya kita semua — pemerintah, kita, bangsa ini — mendengar suara dari garis depan. Jalan rusak bukan hanya soal aspal atau batu, tapi soal harga diri, soal keadilan, dan soal janji kemerdekaan yang belum tuntas di tanah perbatasan. Mari jadikan setiap kibaran bendera di Krayan sebagai panggilan untuk bergerak, membangun, dan merawat Indonesia dari ujung yang paling sunyi.