Kabut tipis masih menggantung di atas pepohonan saat Suci (9) melangkah keluar dari rumah panggungnya di Kampung Jagoi Babang, Entikong, Kalimantan Barat. Pukul 05.30 pagi, langit belum sepenuhnya terang, namun ia sudah bersiap dengan seragam merah putih yang sedikit kusam—tanda perjalanan panjang yang hampir setiap hari dilaluinya. Tas ransel cokelatnya dibalut plastik hitam agar buku-buku tak basah kuyup disiram hujan atau genangan air di jalan. Bersama tiga temannya, Suci menyusuri pematang sawah yang masih becek. Langkah kecil mereka cepat-cepat melewati semak belukar yang lebat—waswas dengan ular berbisa yang kerap melintas. Sesekali mereka berhenti, menengadahkan telinga mendengar suara kera ekor panjang yang bergelantungan di dahan. Suasana hutan pagi itu terasa mencekam, namun semangat mereka tak surut. Di hadapan mereka, sungai kecil harus diseberangi dengan jembatan bambu reyot, bertumpu pada akar pohon yang menjuntai. Dari balik bukit, suara bedug sekolah mulai memecah keheningan. Suci tersenyum, walau matanya sayu menatap banjir yang mulai merendam jalan di ujung kampung. Pendidikan di perbatasan Entikong memang harus dibayar dengan perjuangan setiap langkah.
Potret Perjuangan di Jalan Setapak Perbatasan
Perjalanan Suci dan teman-temannya ke sekolah bukan sekadar rutinitas. Ia adalah potret nyata betapa kerasnya hidup di garis depan negeri. Setiap hari, saat anak-anak di kota mungkin masih terlelap, bocah-bocah perbatasan ini sudah berjalan tanpa alas kaki di tanah becek. Kondisi infrastruktur jalan menjadi saksi bisu perjuangan mereka:
- Jalan tanah yang berlubang dan licin setelah hujan, membuat langkah terpeleset berkali-kali.
- Jembatan bambu yang hanya selebar bahu, tanpa pegangan pengaman, melintas di atas sungai yang airnya keruh.
- Semak belukar yang sering menjadi tempat persembunyian ular—warga setempat menyebut ular tanah dan ular hijau sering muncul.
- Genangan air setinggi lutut di sepanjang jalan menuju sekolah, terutama saat musim penghujan seperti sekarang.
“Kami sudah biasa melewati ini sejak kelas satu. Yang penting sekolah, biar bisa sukses,” ujar Suci pendek saat ditemui di sela-sela perjalanan. Senyumnya polos, tapi sorot matanya mengandung tekad yang jarang dimiliki anak seusianya. Pendidikan di perbatasan bukan sekadar angka—ia adalah ancaman untuk meraih masa depan di tengah keterbatasan.
Sekolah Negeri Hingga Kelas Tiga: Lalu Harus Menempuh 7 Kilometer Lebih
Sekolah negeri di Kampung Jagoi Babang hanya menyediakan pendidikan hingga kelas tiga. Setelah itu, Suci dan teman-temannya harus melanjutkan ke sekolah inti yang berjarak sekitar 7 kilometer. Jarak yang bagi orang dewasa mungkin hanya setengah jam naik motor, namun bagi anak-anak yang hanya mengandalkan jalan kaki, ini memakan waktu hingga satu setengah jam—dengan medan yang sulit diprediksi. Hari itu, nasib tak bersahabat: banjir setinggi lutut menggenangi jalan di ujung kampung, memaksa mereka menahan langkah lebih lama. “Hampir terlambat hari ini. Tapi pak guru masih di pintu, jadi kami tetap masuk,” cerita Suci sambil menepuk-nepuk tasnya yang mulai lembab. Di balik keterbatasan ini, semangat belajar anak-anak perbatasan tidak pernah pudar. Mereka sadar, hanya lewat pendidikan mereka bisa keluar dari jerat kemiskinan dan keterisoliran. Pemerintah setempat mencatat masih minimnya akses transportasi dan fasilitas sekolah yang layak di daerah perbatasan Entikong—sebuah ironi di daerah yang dijuluki sebagai beranda negara.
Suci kembali menapaki pematang sawah, berjalan di antara pepohonan yang mulai menyerap cahaya matahari. Pagi itu, ia dan tiga temannya sudah berada di sekolah saat bel masuk berbunyi. Namun pertanyaan besar tetap menggantung di benak setiap orang yang menyaksikan perjuangan mereka: sampai kapan anak-anak perbatasan harus berjuang sendirian melewati hutan dan banjir demi mendapatkan pendidikan yang layak? Negeri ini berutang pada mereka—karena di ujung negeri inilah nasib bangsa dipertaruhkan. Maka, kepedulian kita semua adalah energi untuk terus memperkuat semangat nasionalisme, agar tidak ada lagi anak perbatasan yang harus menangis karena ruang kelas yang jauh atau buku yang basah. Sudah saatnya Indonesia hadir lebih nyata di setiap langkah kecil Suci dan teman-temannya di pendidikan perbatasan Entikong.