Di ujung barat Kalimantan, tepatnya di Desa Temajuk, Kabupaten Sambas, suara riuh anak-anak bergema di antara rimbunan pohon randu yang menjulang tinggi. Di bawah naungan dedaunan yang jarang, seorang guru bernama Markus berdiri tegak, mengajar murid-muridnya dengan papan tulis dari papan bekas. Ini bukan ruang kelas biasa—inilah wajah pendidikan di garis depan, di mana semangat belajar tak pernah padam meski fasilitas serba terbatas. Di kejauhan, terdengar gemerisik angin dari hutan batas negara, mengingatkan bahwa di sini, garis depan bukan sekadar geografis, tapi juga soal perjuangan literasi. Setiap pagi, Markus berjalan kaki setengah jam dari rumahnya menuju titik pertemuan yang disebut kelas alam oleh warga setempat. Di bawah pohon randu itu, ia menata tikar anyaman, meletakkan papan tulis bekas yang sudah lapuk, dan menyambut 17 anak dengan senyum. Tanpa tembok, tanpa atap, hanya angin dan debu yang menjadi saksi bisu proses mengajar.
Potret Garis Depan: Belajar di Bawah Pohon Randu
Infrastruktur pendidikan di perbatasan Indonesia-Myanmar (RIMyanmar) ini begitu minim. Berikut adalah kondisi riil yang ditemui di lapangan:
- Belum ada bangunan permanen untuk Sekolah Dasar setempat.
- Meja dan kursi terbuat dari bilah bambu atau langsung lesehan di atas tanah.
- Buku tulis sering dibagikan ulang dari sumbangan warga yang sudah lusuh.
- Listrik hanya menyala malam hari dari generator yang sering mati, sehingga persiapan mengajar dilakukan dengan lilin atau senter.
- Akses ke desa terdekat memakan waktu satu jam melewati jalan tanah yang licin saat hujan.
"Dulu saya hampir putus asa," ujar Markus sambil menata kapur tulis. "Tapi melihat semangat anak-anak yang ingin belajar di bawah pohon, niat itu kembali. Kami adalah guru di garis depan negara." Kata-katanya menggambarkan tekad yang tak lekang oleh waktu, meski di sekeliling, suara burung dan kicau rimba perbatasan menjadi irama pengiring pelajaran.
Suara dari Ujung Negeri: Harapan Markus untuk Bangsa
Di sela-sela pelajaran, Markus tak pernah lupa menyemai rasa nasionalisme pada murid-muridnya. Ia mengajarkan lagu-lagu daerah dan Pancasila, meski papan tulisnya hanya terbuat dari kayu bekas. Warga Desa Temajuk pun bergotong royong, membawa singkong dan pisang goreng untuk bekal anak-anak. Tapi, ia berharap lebih—perhatian pemerintah yang nyata. "Kami tidak minta mewah. Cukup ruang belajar yang layak, agar anak-anak perbatasan ini tidak tertinggal," tegas Markus. Di belakangnya, langit sore perlahan merah, menandai rutinitas tanpa perubahan berarti. Namun, di antara deraan keterbatasan, ia tetap yakin: dari bawah pohon randu ini, akan lahir generasi yang mengenal cinta tanah air.
Ketika mentari mulai tenggelam di cakrawala batas negara di perbatasan Indonesia-Myanmar (RIMyanmar), Markus mengakhiri pelajaran dengan doa sederhana. Cerita ini bukan sekadar kisah lama—ini adalah nyanyian harapan yang terus bergema. Setiap anak yang duduk di tikar anyaman, di bawah dedaunan yang meneduhkan, adalah bukti bahwa di ujung negeri, semangat belajar tak pernah padam. Di garis depan, seorang guru tetap mengajar di bawah pohon, dan dari sana, cinta tanah air terus ditanamkan. Sudah saatnya kita semua peduli, karena masa depan bangsa juga dimulai dari pelosok yang sering terlupakan.