Air Sungai Sebatik berwarna cokelat pekat, beriak tenang saat dayung kayu menyentuh permukaannya. Sebuah perahu getek—rakit bambu sederhana yang diikat dengan tali tambang—meluncur perlahan membawa Pak Andi, seorang guru honorer SDN 003 Sebatik Tengah, Nunukan. Hujan deras semalam meninggalkan arus sungai yang deras dan berbahaya, namun Pak Andi harus menjaga keseimbangan di atas bambu licin agar tak terguling. Di tepi sungai yang berlumpur, 12 muridnya telah duduk bersila, buku lusuh di pangkuan, menanti pelajaran hari ini di bangunan kayu lapuk yang menjadi satu-satunya sekolah di pelosok perbatasan ini.
Menyeberangi Arus Demi Masa Depan
Setiap pagi, sebelum fajar merekah, Pak Andi sudah berdiri di dermaga kecil dengan dayung kayu usang di tangan. Ia menaiki perahu getek yang dibuat sendiri oleh warga setempat—rakit dari bambu tua yang diikat tali nilon, tanpa pelampung atau pegangan. Perjalanan menyeberangi sungai memakan waktu 20 menit lebih, tergantung derasnya arus. “Ini sudah biasa. Kalau tidak ada perahu, saya renang. Demi anak-anak, saya jalani,” ujarnya dengan senyum gamang, suaranya hampir tenggelam oleh gemericik air. Bagi seorang guru honorer di Nunukan, perahu getek bukan sekadar alat transportasi, melainkan jembatan harapan menuju masa depan generasi penerus di garis depan.
- Arus sungai yang deras setelah hujan menjadi tantangan utama setiap hari—Pak Andi harus mendayung melawan arus sambil menjaga keseimbangan.
- Perahu getek terbuat dari tiga lapis bambu yang diikat tali rafia, seringkali tali putus di tengah perjalanan.
- Pak Andi harus berangkat sebelum pukul 06.00 pagi agar tiba tepat waktu mengajar; ia hanya mengandalkan lampu senter kepala saat gelap.
- Tidak ada alternatif transportasi lain; jalan darat belum tersambung ke dusun terpencil ini karena medan rawa dan hutan lebat.
Sekolah di Ujung Negeri, Semangat di Puncak Harapan
Sesampainya di seberang, tampak sebuah bangunan kayu lapuk beratapkan seng yang bocor di beberapa bagian. Lantai papan sudah reot, dan dinding papan banyak yang berlubang. Di dalam kelas, 12 murid duduk di bangku kayu sederhana, dengan buku tulis kusam dan pensil pendek yang hampir habis. Meski minim fasilitas, semangat mereka tak pernah pudar. Pak Andi mengajar dengan kapur di papan tulis hitam yang sudah retak. “Anak-anak ini sangat antusias. Mereka rela berjalan kaki hingga dua jam dari rumah hanya untuk sekolah,” katanya sambil menata buku di atas meja guru yang hampir roboh. Dedikasi tenaga pendidik di perbatasan ini menjadi suluh semangat nasionalisme yang tak pernah padam.
Di sudut ruangan, foto Presiden dan Wakil Presiden sudah lusuh, dan peta Indonesia sebagian robek. Namun, dari balik keterbatasan itu, tekad untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terus menyala. Pak Andi menyadari bahwa dirinya bukan sekadar guru honorer, melainkan simbol perjuangan warga perbatasan yang haus akan ilmu. Setiap hari, ia mengorbankan waktu dan tenaga, bahkan nyawa, demi melihat senyum murid-muridnya yang berhasil membaca dan menulis. Di ujung negeri ini, semangat mengajar tak pernah surut meski fasilitas serba terbatas. Adalah tugas kita semua, sebagai bangsa yang satu, untuk terus mendukung mereka yang berjuang di garis depan—karena di sinilah, di pelosok perbatasan, denyut nasionalisme yang sejati terasa paling kuat.