Fajar di Pulau Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, masih diselimuti kabut tipis ketika Pak Hasan, 62 tahun, melangkah pasti melewati hutan mangga yang lebat. Jejak kakinya membekas di tanah berpasir, menyusuri jalan setapak yang hanya dikenal oleh warga setempat. Di ujung jalan, sebuah bangunan papan tua berdiri miring — sekolah yang telah menjadi saksi bisu pengabdiannya selama tiga dekade. Atapnya bocor di beberapa titik, papan tulis hitam yang retak digantung di dinding, dan meja-kursi usang tersusun rapi di ruang kelas rangkap. Di kejauhan, laut biru membentang, memantulkan sinar matahari pagi yang mulai menyapa, sementara kapal-kapal nelayan lalu lalang meninggalkan buih putih di permukaan air.
Guru di Ujung Negeri: 30 Tahun Mengabdi Tanpa Gaji
Pak Hasan bukanlah guru yang diupah pemerintah. Selama 30 tahun, ia mengajar 12 murid di kelas rangkap — dari anak-anak yang baru mengenal huruf hingga yang sudah bisa berhitung — tanpa menerima gaji rutin. Hari-harinya dihabiskan di sekolah papan itu, berbagi ilmu kepada anak-anak yang sebagian besar berasal dari nelayan setempat. "Saya tidak ingin anak-anak buta huruf," katanya sambil mengusap debu yang menempel di bajunya yang lusuh. Suaranya serak, namun penuh tekad. Di pulau ini, belum ada listrik dan sinyal telepon. Suara debur ombak menjadi pengiring pelajaran membaca. Setiap pagi, ia harus menyiapkan sendiri papan tulis, kapur, dan buku-buku yang entah datang dari mana.
- Infrastruktur pendidikan yang memprihatinkan: atap sekolah bocor, papan tulis retak, dan rak buku terbuat dari bambu.
- Tidak ada akses listrik maupun sinyal telepon di Pulau Marore.
- Semua kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam satu ruang kelas rangkap dengan 12 murid.
Kisah Pak Hasan adalah potret nyata perjuangan di garis depan negeri. Meski tidak diakui statusnya sebagai guru honorer yang layak, ia tetap berdiri di depan kelas dengan semangat nasionalisme yang tak pernah padam. Warga sekitar mengaku bersyukur kehadirannya. "Tanpa Pak Hasan, anak-anak kami tidak akan bisa membaca," ujar Maria, seorang ibu nelayan yang anaknya diajar oleh Pak Hasan. Namun, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Tak jarang, Pak Hasan harus berjalan kaki jauh ke desa tetangga untuk mendapatkan kapur tulis atau buku bekas dari para donatur yang peduli.
Potret Garis Depan: Sekolah di Tengah Keterbatasan
Hari ini, secercah harapan datang dari luar pulau. Seorang donatur mengirimkan buku-buku bekas dari Manado, ibu kota Sulawesi Utara. Pak Hasan dengan telaten menata buku-buku itu di rak bambu buatannya sendiri. Mata murid-muridnya berbinar-binar saat melihat gambar pesawat terbang di dalam salah satu buku. Mereka berdesakan di depan rak, berbisik-bisik, lalu bertanya-tanya. "Pak, pesawat itu terbang ke mana?" tanya salah satu murid dengan polos. Pak Hasan tersenyum, lalu menjelaskan bahwa pesawat itu menghubungkan pulau-pulau di Indonesia, termasuk Marore. Di tengah keterbatasan, semangat anak-anak ini membuktikan bahwa pendidikan tidak pernah berhenti di garis depan.
Pulau Marore terletak di kawasan perbatasan Indonesia-Filipina, sebuah titik yang sering terlewat dari perhatian pemerintah pusat. Namun, di sinilah denyut nasionalisme terasa paling nyata. Pak Hasan adalah simbol ketahanan itu — seorang guru yang mengabdikan hidupnya untuk generasi penerus di ujung negeri. Ketika sinar matahari semakin tinggi, suara anak-anak membaca nyaring terdengar dari sekolah papan itu, memecah keheningan pulau yang tidak dialiri listrik. Laut biru yang membentang luas seakan ikut menyaksikan perjuangan kecil yang luar biasa ini.
Kisah Pak Hasan bukan sekadar cerita tentang seorang guru honorer tanpa gaji. Ini adalah cermin bagi kita semua: di balik keterbatasan, masih ada semangat yang tak pernah padam untuk mencerdaskan anak bangsa. Di Pulau Marore, Kepulauan Sangihe, pendidikan adalah perjuangan. Dan Pak Hasan, dengan 30 tahun pengabdiannya, adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang layak mendapat perhatian kita semua.