Fajar belum sepenuhnya menyingsing di ujung timur Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, ketika suara merdu ayat suci mulai menggema. Dari sebuah surau panggung berdinding anyaman bambu yang terletak persis di garis batas negara, lantunan Al-Qur’an bersaing dengan kicau burung liar dari hutan perbatasan. Di sinilah, di bawah bayangan perbatasan yang membelah pulau menjadi dua bagian — separuh Indonesia, separuh Malaysia — seorang guru ngaji bernama Ustadz Rahman memulai tugasnya. Dengan sarung lusuh dan peci hitam yang nyaris tak pernah lepas, ia berdiri di depan 30 anak yang duduk lesehan di atas tikar usang. Papan tulis hitam penuh coretan huruf Arab menjadi saksi bisu semangat mereka. Udara pagi yang dingin dan lembab tak menyurutkan api semangat belajar ilmu agama di garis depan negeri.
Surau Panggung di Ujung Negeri: Pendidikan Agama di Garis Depan
Surau itu tidak seperti tempat ibadah pada umumnya. Berdiri di atas panggung kayu dengan dinding anyaman bambu yang mulai reyot, atapnya dari seng bekas yang kerap bocor saat hujan deras. Di dalam, hanya ada tikar anyaman plastik yang sudah usang, sebuah papan tulis hitam yang retak, dan beberapa lembar Al-Qur’an yang kertasnya mulai menguning. Namun, keterbatasan itu tak menghalangi langkah kecil anak-anak yang setiap subuh berjalan kaki melewati jalan setapak berbatu untuk sampai ke surau. Ustadz Rahman, yang telah mengabdikan dirinya di kampung perbatasan ini selama lebih dari lima tahun, mengajar dengan penuh kesabaran. Ia mengulang-ulang bacaan, memperbaiki makharijul huruf, dan sesekali menyelipkan cerita tentang kisah para nabi. Dari raut wajah anak-anak yang serius dan khusyuk, tampak betapa mereka haus akan siraman rohani di tengah berbagai pengaruh budaya dari seberang.
- Kondisi surau: panggung kayu, dinding anyaman bambu reyot, atap seng bekas bocor.
- Fasilitas belajar: tikar usang, papan tulis hitam retak, Al-Qur’an kusam.
- Akses jalan setapak berbatu yang dilalui anak-anak setiap subuh.
Nasionalisme dari Ayat Suci: Benteng Identitas di Perbatasan
Bagi Ustadz Rahman, mengajar mengaji di Sebatik bukan sekadar tugas keagamaan. Ini adalah misi menjaga identitas bangsa di ujung terdepan. “Mereka harus kuat iman agar tidak terpengaruh budaya tetangga,” ungkapnya dengan suara pelan namun tegas, sembari menunjuk ke arah batas negara yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari surau. Di pulau yang separuhnya milik Malaysia, interaksi antardua negara begitu intens. Television asing, produk budaya populer, dan gaya hidup berbeda bercampur baur dalam keseharian warga. Di tengah tantangan itu, surau panggung ini menjadi benteng pertahanan spiritual. Setiap subuh, lantunan ayat suci menembus batas, mengingatkan anak-anak bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia yang berideologi Pancasila. Potret nasionalisme ini sederhana namun dalam: anak-anak bersarung duduk bersila, menghafal surat-surat pendek, dan dalam doa mereka terkandung kecintaan pada tanah air yang tak pernah mereka lihat ibu kotanya, tetapi mereka rasakan di setiap detak jantung.
Sebatik, pulau yang kerap disebut sebagai “perbatasan yang terlupakan”, masih menyimpan ribuan kisah perjuangan. Dari para petani rumput laut yang melempar jaring di perairan dua negara, hingga guru ngaji yang mempertaruhkan tenaga dan waktu demi masa depan generasi penerus. Di surau panggung yang sederhana, di bawah atap seng yang bocor, dan di atas tikar usang, semangat kebangsaan terus dipupuk. Setiap huruf Al-Qur’an yang diucapkan oleh anak-anak itu adalah sumpah setia mereka pada negeri ini. Lensa kamera mungkin mampu menangkap senyum mereka saat melafalkan ayat, namun tak bisa merekam seluruh perjuangan yang mengiringinya. Kitalah yang harus hadir, melihat, dan peduli — karena nasionalisme sejati lahir dari tepi yang paling jauh, dari batas yang paling rapuh.