INFRASTRUKTUR

Kisah Haru Warga Perbatasan Entikong yang Kini Menikmati Listrik 24 Jam

Kisah Haru Warga Perbatasan Entikong yang Kini Menikmati Listrik 24 Jam

Setelah puluhan tahun gelap, warga Dusun Sotok, Entikong, Kalimantan Barat, kini menikmati listrik 24 jam berkat program pembangkit listrik tenaga diesel dan jaringan pipa gas. Perubahan ini menghadirkan harapan baru bagi anak-anak untuk belajar, ibu rumah tangga untuk menjalani hidup lebih baik, serta pelaku usaha untuk menggerakkan ekonomi di perbatasan. Listrik di Entikong bukan sekadar infrastruktur, melainkan bukti nyata kehadiran negara di ujung negeri.

Senja perlahan bergulir menjadi malam di Dusun Sotok, Desa Sotok, Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat. Di ujung negeri yang berbatasan langsung dengan Malaysia, malam dulu selalu berarti gelap dan hening. Namun kini, dari balik celah-celah dinding bambu yang menjadi rumah warga, sinar lampu listrik memancar terang, menggantikan cahaya pelita yang selama puluhan tahun menjadi satu-satunya penerang. Suara dengung lembut genset dan derik kabel listrik menjadi latar baru yang tak biasa bagi warga yang terbiasa dengan sunyi dan gelap. Pukul tujuh malam, seisi rumah milik Ibu Maria langsung diterangi, membuyarkan kegelapan yang sejak lama menghantui kawasan perbatasan ini.

Dari Cahaya Pelita ke Terang Listrik: Potret Perubahan di Ujung Negeri

Ibu Maria, seorang petani karet berusia 45 tahun, berdiri di ambang pintu rumahnya. Matanya berkaca-kaca melihat kedua anaknya duduk di meja belajar, diterangi lampu 15 watt yang stabil. "Ini cita-cita pertama saya," ujarnya lirih, suaranya bergetar haru. "Selama ini mereka belajar dengan lampu minyak yang berpendar redup, membuat mata cepat lelah. Sekarang, mereka bisa membaca dan menulis dengan nyaman. Negara benar-benar datang ke sini." Di sudut ruangan, sebuah televisi menyala menayangkan berita nasional — pemandangan yang baru terjadi dua pekan terakhir, sejak aliran listrik mengalir 24 jam tanpa putus. Remaja-remaja di dusun itu juga tampak asyik berlatih memperbaiki telepon genggam, sesuatu yang mustahil dilakukan saat listrik hanya menyala beberapa jam sehari dan baterai tak bisa diisi penuh.

Listrik Mengalir, Ekonomi Bergerak: Denyut Baru Perbatasan

Program pemerintah melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan pemasangan jaringan pipa gas menjadi jawaban atas keluhan puluhan tahun warga Entikong. Kini, aliran listrik mengalir 24 jam, mengubah denyut kehidupan di perbatasan Kalimantan Barat. Pelaku usaha kecil seperti warung sembako bisa menggunakan lemari pendingin untuk menyimpan bahan dagangan yang mudah basi. Dari balik jendela, terlihat wartel-wartel baru mulai bermunculan — tanda ekonomi mulai berdetak setelah sekian lama mati suri. Berbagai perubahan nyata mulai dirasakan warga:

  • Anak-anak dapat belajar di malam hari dengan penerangan cukup, menggantikan lampu minyak yang redup dan berbahaya bagi kesehatan mata.
  • Ibu rumah tangga bisa menyetrika dan menyimpan makanan di lemari es, meningkatkan kualitas hidup dan higiene.
  • Usaha mikro seperti wartel dan bengkel HP mulai tumbuh, menciptakan lapangan kerja baru bagi pemuda setempat.
  • Pembangkit listrik tenaga diesel dan jaringan pipa gas menjadi tulang punggung pasokan energi di wilayah perbatasan yang terisolasi.

Entikong, yang lama berhenti dalam gelap, perlahan bergerak ke arah kemajuan. Namun di balik terangnya lampu, masih ada desa-desa lain di perbatasan Kalimantan Barat yang menanti kehadiran negara. Listrik bukan sekadar penerang, melainkan simbol kehadiran negara di ujung negeri — bukti bahwa warga perbatasan bukan hanya penjaga pintu gerbang NKRI, tetapi juga berhak atas kehidupan yang layak dan modern. Lensa-Teritorial akan terus menyorot kondisi riil di garis depan, karena terang di Entikong adalah secercah harapan bagi seluruh perbatasan Indonesia.

pemerataan energi listrik perbatasan kemajuan desa
Tokoh: Maria
Lokasi: Desa Sotok, Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat, Entikong

Artikel terkait