Senja mulai merambat di ujung timur Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, saat dermaga kayu yang reyot mulai sepi dari hiruk-pikuk aktivitas. Air laut berwarna keperakan, sesekali disapu angin yang membawa aroma asin dan lumpur. Di antara perahu-perahu bermesin tempel yang bersandar, satu perahu menonjol dengan cat merah putih yang mulai memudar—milik Pak Hasan (60), seorang nelayan yang telah puluhan tahun mengarungi laut perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Tak ada pagar atau patok di sini; satu-satunya penanda adalah garis khayal yang hanya ada di peta dan di hati para nelayan yang setia pada tanah air.
Melaut di Garis Batas: Antara Dua Negara
Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, Pak Hasan sudah meluncur dari dermaga. Perahunya yang sederhana itu ia lengkapi dengan GPS untuk memastikan tak tersesat ke wilayah Malaysia. "Kami sering diuber patroli Malaysia, tapi kami tahu ini laut Indonesia," katanya sambil menggenggam alat navigasi usang itu. Di perbatasan, setiap hari adalah adu mental dan keyakinan. Nelayan seperti Pak Hasan harus pandai membaca angin, gelombang, dan batas negara yang tak kasat mata.
- Batas negara hanya berupa garis khayal di tengah laut, tanpa pagar atau penanda fisik.
- Para nelayan di Pulau Sebatik rutin menggunakan GPS untuk menghindari pelanggaran wilayah.
- Meski sering diuber patroli Malaysia, mereka teguh pada keyakinan bahwa laut itu milik Indonesia.
- Ikan hasil tangkapan dijual ke Tawau, Malaysia, karena harga lebih baik, tetapi hati mereka tetap pulang ke Sebatik.
Ikan hasil tangkapan yang melimpah memang lebih menggiurkan bila dijual ke Tawau, Malaysia, dengan harga lebih baik. Namun, setiap perahu kembalinya selalu ke dermaga reyot di Pulau Sebatik. Seperti kata Pak Hasan, "Di sinilah tanah airku."
Merah Putih di Laut dan di Hati
Di dermaga yang sama, terkadang terlihat anak-anak berlarian pulang dari SD Inpres Sebatik. Mereka membawa buku dan tas, sementara dari kejauhan terdengar suara merdu seorang guru mengajarkan lagu Indonesia Raya. "Anak-anak saya juga sekolah di sana. Mereka hafal lagu kebangsaan sejak kelas satu," ujar Pak Hasan dengan bangga. Di perbatasan, pendidikan adalah benteng terakhir nasionalisme. Infrastruktur sekolah sederhana, namun semangat belajar tak pernah luntur. Dermaga kayu yang menjadi tumpuan aktivitas ekonomi para nelayan pun membutuhkan perbaikan, namun keterbatasan anggaran membuatnya terus reyot.
Setiap sore, saat perahu-perahu mulai kembali, warna merah putih yang tercat di lambung perahu Pak Hasan menjadi pemandangan yang membangkitkan haru. Di tengah lautan yang tak bertuan, warna itu adalah pengingat bahwa tanah air tak pernah lekang oleh waktu. Anak-anak yang pulang dari SD Inpres pun ikut larut dalam nyanyian: "Indonesia Raya, merdeka, merdeka, tanahku, negeriku, yang kupuja." Suara mereka berpadu dengan debur ombak, menjadi simfoni perbatasan yang abadi.
Sungguh, hidup di garis depan adalah pilihan heroik yang tak banyak orang tahu. Para nelayan di Pulau Sebatik menantang ombak dan risiko setiap hari demi mempertahankan kedaulatan dan mencari nafkah. Kita yang hidup di balik layar kemewahan kota mungkin tak pernah merasakan getirnya garam laut yang mengering di kulit, atau takut diuber patroli negara tetangga. Namun, di ujung timur negeri ini, ada denyut nadi kebangsaan yang tak pernah padam. Sudah sepantasnya kita peduli pada nasib mereka, memperbaiki dermaga yang reyot, dan memastikan sekolah-sekolah di perbatasan tetap berdiri kokoh. Karena di sanalah, merah putih bukan sekadar simbol, melainkan jiwa yang hidup di setiap debar jantung warga dan debur ombak laut perbatasan.