Pagi itu, di Desa Tanjung Belit, Kecamatan Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Riau, suasana sungai mulai terasa hangat. Pak Leo (55) sibuk menambal lubang pada perahu buatannya yang terbuat dari tiga tong plastik bekas. Air Sungai Siak mengalir tenang di belakangnya, sementara anak-anak kecil berlarian di pinggir sungai, melambaikan tangan. Matahari perlahan naik, memantulkan silau di permukaan air. Di hadapannya, perahu miring namun stabil itu siap mengarungi perjalanan satu jam menuju pasar tradisional di perbatasan dengan Malaysia.
Kreativitas di Ujung Sungai Siak
"Modal tidak banyak, harus kreatif," ujar Pak Leo sambil mengikat tali tambang. Tong bekas tersebut ia peroleh dari tetangga yang sudah tidak terpakai. Dengan keterampilan yang dimiliki, ia merangkai tiga tong plastik bekas menjadi perahu yang mampu mengangkut hingga 50 kilogram ikan. Ikan patin dan baung menjadi tangkapan utama yang akan dijual di pasar perbatasan. Mesin tempel bekas menjadi andalannya untuk melaju di Sungai Siak yang tenang.
Perahu tong bekas ini memang tidak sempurna, namun cukup handal. Pak Leo sudah beberapa kali menggunakannya dan belum pernah mengalami kecelakaan berarti. "Yang penting stabil dan bisa mengangkut ikan," katanya sambil tersenyum. Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih pada nelayan-nelayan kecil di perbatasan seperti dirinya. Akses terhadap perahu yang layak dan mesin yang lebih baik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan hasil tangkapan.
Perjuangan Nelayan di Perbatasan Riau
- Infrastruktur perikanan di perbatasan Riau masih minim. Nelayan seperti Pak Leo mengandalkan peralatan seadanya untuk bertahan hidup.
- Suara warga setempat menyebutkan, kreativitas menjadi kunci bertahan di tengah keterbatasan. Banyak nelayan lain yang juga membuat perahu dari bahan bekas.
- Fakta lapangan: Di Desa Tanjung Belit, akses ke pasar perbatasan memakan waktu satu jam dengan perahu bermesin tempel bekas. Tidak ada dermada khusus, hanya tepian sungai yang landai.
- Kondisi geografis yang terisolasi membuat harga ikan di pasar lokal lebih rendah, namun biaya transportasi tetap tinggi.
Setelah menambal lubang dan memeriksa ikatan tali, Pak Leo pun bersiap berangkat. Karung berisi ikan patin dan baung diletakkan di atas perahu. Anak-anak masih melambai dari pinggir sungai. Perjalanan ke pasar perbatasan akan ia tempuh dengan penuh semangat, membawa hasil tangkapan untuk menghidupi keluarganya.
Di ujung negeri, di garis depan perbatasan Riau, semangat Pak Leo adalah cerminan nasionalisme yang tak pernah padam. Kreativitas dan kegigihan warga seperti beliau menjadi benteng terakhir yang menjaga denyut kehidupan di wilayah perbatasan. Sudah selayaknya kita peduli dan mendukung perjuangan mereka, karena dari sanalah Indonesia berdiri kokoh.