Di perairan dangkal sekitar Skouw Sae, warna air berubah menjadi hijau kecokelatan, dihiasi akar-akar bakau yang menjulur seperti tangan raksasa dari hutan mangrove. Angin membawa bau asin bercampur lumpur, sementara riak-riak kecil menari di permukaan laut. Di sela-sela belantara akar itulah, kapal motor kecil bermesin tempel kerap muncul dan menghilang bagai siluman, mengangkut muatan ilegal dari seberang garis batas. Mayjen TNI (Mar) Sugianto memandang jauh dari dek kapal patroli, mencoba membaca ancaman yang tersembunyi di balik ketenangan panorama perbatasan. Bagi dia, keamanan kawasan ini tidak cukup hanya dijaga oleh kapal besar yang gagah, tetapi juga butuh armada kecil lincah yang bisa menembus sungai sempit dan perairan berkarang.
Saat Kapal Besar Tak Menjangkau Perairan Kritis
Kebutuhan akan kapal patroli tambahan di perbatasan RI-PNG bukan sekadar wacana. Menurut Mayjen TNI (Mar) Sugianto, pasukan di lapangan membutuhkan kapal berukuran kecil dengan tenaga besar, seperti perahu karet bermesin ganas, yang mampu menyusuri alur sempit dan perairan dangkal yang tidak bisa diakses kapal besar. Tambahan armada itu akan memperluas jangkauan patroli, terutama di kawasan seperti Skouw Mabo dan lintasan laut menuju Jayapura yang selama ini menjadi jalur favorit penyelundup.
Patroli rutin Kodaeral X harus meliuk di antara pulau-pulau kecil, dari Biak hingga Nabire. Di sepanjang rute ini, perubahan arus dan cuaca mendadak adalah ujian nyata. Lautan yang tampak tenang bisa bergolak dalam hitungan menit. Karena itu, kapal yang tangguh dan cepat bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan mutlak untuk menjaga keselamatan awak dan efektivitas pengawasan di perairan Papua.
Potret Penyelundupan dan Suara Warga Kampung Skouw Mabo
Hasil operasi sebelumnya menjadi bukti kerasnya pertarungan di garis depan. Foto-foto penyitaan memperlihatkan tumpukan bungkusan plastik hitam berisi 14 kilogram ganja yang disita di tengah laut, sebelum barang haram itu masuk ke Jayapura. Setiap bungkusan yang lolos berarti generasi muda Papua semakin dekat dengan bahaya narkoba.
- Perairan dangkal dan hutan mangrove di sekitar Skouw Sae sering dimanfaatkan sebagai jalur transit penyelundup.
- Warga pesisir Kampung Skouw Mabo kerap melihat siluet kapal asing melintas di malam hari, tetapi ragu melapor karena takut atau merasa itu urusan aparat.
- Kodaeral X membentang dari Biak hingga Nabire, dengan tantangan arus kuat dan cuaca ekstrem Selat Papua.
- Kapal kecil bertenaga besar menjadi prioritas untuk menjangkau perairan yang tak bisa dilalui kapal patroli besar.
Keterlibatan warga menjadi kunci yang belum digarap maksimal. Di Kampung Skouw Mabo, sebagian besar nelayan tahu betul bentuk dan kebiasaan kapal asing yang melintas. Namun, tanpa komunikasi yang dekat antara aparat dan masyarakat, laporan berharga kerap tertahan di mulut. Padahal, setiap mata dan telinga warga adalah sensor kewaspadaan paling murah di perbatasan.
Menjaga perbatasan bukan sekadar mengawal garis koordinat di peta. Bagi Lensa-Teritorial, setiap tambahan kapal patroli adalah denyut kedaulatan yang berdetak di ujung negeri. Di balik hiruk-pikuk kebutuhan anggaran dan alutsista, ada nama-nama kecil di kampung pesisir yang menanti rasa aman. Semoga langkah penguatan patroli ini bukan hanya menjadi angka di laporan, tetapi benar-benar menjadi tembok terakhir yang menjaga Indonesia dari ancaman yang datang dari laut.