Asap masih mengepul tipis dari sisa-sisa rumah yang hangus di Desa Patahuwe, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku. Bau kayu terbakar bercampur aroma tanah basah dan ketegangan yang masih mengental di udara. Deretan pos pengamanan baru berdiri di perbatasan antara Desa Lisabata dan Patahuwe — sebuah garis pemisah yang tegas namun rapuh. Sebanyak 250 personel gabungan TNI-Polri dari Kodam Pattimura berjaga dengan sikap tenang namun waspada. Mereka bukan sekadar barikade fisik, melainkan penengah yang mendengar keluh warga dari kedua sisi. Pangdam Pattimura Mayjen TNI Dody Triwinarto turun langsung, berjalan di antara puing-puing, memastikan tak ada lagi baku hantam. Di Maluku, bentrokan yang dipicu isu kebakaran lahan ini telah mengubah wajah damai kedua desa. Pengamanan ketat dilakukan Kodam Pattimura untuk merajut kembali persaudaraan yang retak.
Garis Pemisah di Antara Puing
Jendela-jendela pecah, pagar rubuh, dan kebun-kebun yang dulu saling bertukar hasil kini menjadi saksi bisu perpecahan. Warga yang biasanya saling menyapa kini saling menatap dengan curiga. Personel TNI dari Yonif TP 865/Satria Manewata tidak hanya berdiri dengan senjata, tetapi juga membuka ruang dialog. Mereka duduk di balai desa sederhana, mendampingi tokoh adat dan agama dari kedua belah pihak untuk mencari titik terang. Di tengah panasnya konflik, seragam hijau dan biru itu berusaha menjadi penyejuk, mengingatkan akan nilai-nilai persaudaraan yang sejak dulu mengikat masyarakat Maluku. Berikut kondisi infrastruktur yang rusak akibat bentrokan:
- 12 rumah warga terbakar habis, menyisakan puing dan kenangan pahit.
- 3 fasilitas umum hancur, termasuk balai desa yang menjadi pusat pertemuan warga.
- Lahan kebun seluas 2 hektar hangus terbakar akibat api yang menjalar dari lahan sengketa.
- Jalan akses utama antara Lisabata dan Patahuwe sempat ditutup selama 2 hari, memutus hubungan ekonomi dan sosial.
Dialog di Balai Desa, Merajut Kembali Persaudaraan
Suara berat Pangdam Dody menggema di balai desa yang temboknya masih berlumur jelaga. Ia duduk berdampingan dengan kepala desa dan tokoh masyarakat, mendengar langsung keluhan warga. “Kami di sini bukan untuk menghakimi, tapi untuk menjaga agar perdamaian tidak hilang,” ujarnya kepada puluhan warga yang hadir. Pengamanan ketat masih terlihat di sekitar lokasi, namun senjata bukanlah alat utama — pendekatan humanis menjadi kunci. Personel Kodam Pattimura juga membagikan logistik dan mendirikan dapur umum bagi warga yang mengungsi. Mereka menjadi jembatan antara dua desa yang sempat terpisah oleh api amarah. Di balik seragam lusuh, para prajurit menyisakan waktu untuk mendengar cerita anak-anak yang kehilangan tempat bermain, dan ibu-ibu yang kehilangan hasil kebun. Langkah-langkah kecil ini adalah fondasi untuk membangun kembali kepercayaan yang sempat runtuh.
Malam di SBB menjadi sunyi namun waspada. Lampu senter dari pos-pos jaga menyapu gelapnya jalan tanah yang memisahkan Lisabata dan Patahuwe. Pasukan gabungan ini akan tetap siaga, bukan untuk berperang, tetapi untuk menjaga agar perdamaian yang kembali dirangkai tidak terlepas lagi. Di ujung negeri, di balik garis batas yang rapuh, semangat kebangsaan terus dijaga oleh mereka yang rela berkorban — warga biasa, prajurit, dan semua yang percaya bahwa persaudaraan lebih kuat dari api kebencian. Inilah wajah Indonesia dari garis depan, yang tetap teguh merawat keutuhan di tengah ujian.