Di kaki Pegunungan Puncak Jaya, udara dingin menusuk tulang. Senja mulai merambat di langit Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya, saat suasana di Markas Kodim 1714/Puncak Jaya berubah menjadi saksi bisu peristiwa yang tak terlupakan. Sabtu (26/9) siang itu, bukan hanya suara hembusan angin pegunungan yang terdengar, melainkan juga derap langkah empat lelaki yang memilih jalan baru. Mereka adalah Bejo Tabuni, komandan lapangan KKB Kodap XXVIII/Yambi, bersama tiga rekannya: Bongkar Tabuni, Lipar Tabuni, dan Kopitua Tabuni. Di tengah barisan aparat keamanan yang berjaga, keempat mantan anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) itu berdiri tegak di hadapan Pangkoops TNI Habema, Brigjen Riyanto. Prosesi serah terima senjata berlangsung khidmat—senjata yang dulu menjadi alat perlawanan kini berubah menjadi simbol perdamaian. Langit kelabu seolah merestui pilihan mereka untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Ini bukan keputusan instan,” bisik seorang warga yang menyaksikan dari kejauhan, matanya berkaca-kaca.
Momen di Markas Kodim 1714: Empat Senjata, Satu Harapan Baru
Pemandangan di sekitar Markas Kodim 1714/Puncak Jaya menjadi kontras antara dinginnya pegunungan dan hangatnya penerimaan. Dalam upacara reintegrasi nasional itu, keempat mantan anggota KKB menyerahkan total empat pucuk senjata api. Senjata-senjata itulah yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutan bagi warga perbatasan. Namun di hari itu, senjata-senjata tersebut diserahkan sebagai wujud niat tulus untuk kembali ke NKRI.
- Bejo Tabuni—mantan Komandan Operasi Wilayah KKB Kodap XXVIII—memimpin langkah perdamaian ini, mewakili kelompok yang sebelumnya bergerak di balik hutan belantara Puncak Jaya.
- Bongkar Tabuni, Lipar Tabuni, dan Kopitua Tabuni turut serta, menunjukkan bahwa pilihan untuk berdamai bukanlah aksi individu, melainkan gelombang yang mulai merambat di kalangan kelompok lain.
- “Kami ingin hidup tenang di tanah sendiri,” ujar Bejo Tabuni lirih, suaranya nyaris tertelan gemuruh angin gunung. Dinamika di lapangan mengonfirmasi bahwa perubahan sosial di wilayah perbatasan membutuhkan lebih dari sekadar janji—ia butuh aksi nyata, seperti yang terjadi di Mulia sore itu.
Dari Komandan Lapangan ke Warga Negara: Sebuah Titik Balik
Bagi Bejo Tabuni, posisinya sebagai komandan yang kerap bergerak di bawah radar keamanan kini berubah total. Ia memilih berdiri di terang hari, di hadapan aparat dan masyarakat, mengakui kedaulatan NKRI. Momen ini adalah potret nyata dari opsi perdamaian yang selalu terbuka—sebuah transisi dari kegelapan menuju cahaya. Namun, jalan pulang tak berhenti di upacara serah terima. Reintegrasi sosial-ekonomi menjadi tantangan berikutnya. Masyarakat Puncak Jaya menanti bukti bahwa pilihan mereka tidak berujung pada penyesalan atau keterpinggiran di kampung halaman sendiri. Di balik senyum harap, tersimpan pertanyaan: akankah negara hadir dengan program nyata yang memastikan para mantan kombatan ini bisa hidup layak?
Momen di Mulia ini bukan sekadar berita penyerahan diri dan penyerahan senjata. Ia adalah pesan simbolis bagi kelompok lain yang masih bergerak di belantara Papua: bahwa pintu kembali ke NKRI selalu terbuka lebar. Di ujung negeri ini, di mana kabut pegunungan sering menyelimuti harapan, secercah cahaya mulai menerobos. Puncak Jaya menjadi saksi bahwa perdamaian bukanlah mimpi. Kini, tugas kita semua adalah memastikan bahwa mereka yang turun gunung tidak kembali ke hutan, melainkan membangun rumah baru di tanah air tercinta. “Kami ingin anak-anak kami belajar di sekolah, bukan di gunung,” kata Kopitua Tabuni, suaranya bergetar. Dan itulah rindu yang harus dijawab oleh Indonesia.