Kabut pegunungan masih tebal saat langkah pertama para petani kopi Ara menapaki lereng curam Bukit Barisan di Kecamatan Seuneubok, Aceh Timur. Di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, udara dingin menusuk tulang namun semangat mereka tak surut. Tanah lembap yang rawan longsor menjadi medan harian yang harus ditaklukkan. Pak Tarwin (55), petani generasi ketiga, dengan cekatan memetik buah kopi merah di antara tebing. Tangannya yang kapalan memegang erat keranjang bambu, saksi bisu perjuangan puluhan tahun di lahan miring ini.
Laporan dari Garis Depan: Ironi Harga di Balik Cita Rasa
Di balik secangkir kopi Ara yang khas dengan aroma tanah hutan dan sentuhan dingin pegunungan, tersembunyi ironi pahit. Harga jual di tingkat petani perbatasan Aceh hanya Rp25.000 per kilogram—jauh di bawah harga di Kota Medan yang bisa mencapai dua kali lipat. "Kita terisolasi, jalan jelek, tengkulak main harga. Biaya produksi tinggi, tapi pendapatan minim," keluh Pak Tarwin sambil menyeka keringat di pelipisnya.
Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan semakin mempersulit perjuangan mereka:
- Akses jalan tanah berbatu yang hanya bisa dilalui sepeda motor, rusak parah saat musim hujan.
- Listrik dan internet sering padam, sinyal lemah, menghambat upaya pemasaran digital.
- Harga ditentukan tengkulak secara sepihak, petani tidak punya pilihan karena jarak ke pasar induk terlalu jauh.
- Minimnya akses kredit usaha rakyat membuat petani bergantung pada pinjaman tengkulak.
Potret Garis Depan: Perlawanan dari Lereng Bukit Barisan
Meski terisolasi dan serba keterbatasan, semangat para petani tak pernah padam. Bersama kelompok tani, Pak Tarwin dan kawan-kawan memutuskan untuk mengolah kopi secara mandiri. Dari mengupas kulit merah, menjemur di atas anyaman bambu, hingga menyangrai biji kopi di tungku batu tradisional—semua dilakukan dengan peralatan seadanya. Hasilnya dikemas dalam plastik sederhana dengan label tulisan tangan: "Ara Mountain Coffee".
Di bawah pohon kopi, seorang anak kecil tampak membantu menampi biji kopi kering. Pandangannya menerawang ke arah hamparan hutan di sisi Malaysia. "Kami ingin kopi ini terkenal seperti kopi Gayo, tapi akses masih sulit," ujar salah satu anggota koperasi. Foto-foto dari lapangan menunjukkan latar belakang sawah terasering yang hijau subur—kontras dengan pakaian lusuh para petani yang keringatnya membasahi tanah di lereng Bukit Barisan.
Kopi Ara yang tumbuh di lereng curam perbatasan bukan sekadar komoditas. Ia adalah simbol ketahanan—bertahan di lahan yang keras, menantang gejolak harga, dan tetap setia mencintai tanah air. Di setiap biji kopi yang dipetik, tersimpan doa agar pemerintah mendengar jerit petani di ujung negeri. Bahwa di balik secangkir kopi yang nikmat, ada ribuan jiwa yang berjuang menjaga batas negara dengan keringat dan cinta. Sudah saatnya kita menoleh ke arah mereka, para petani perbatasan Aceh, yang setiap harinya menulis kisah perjuangan tanpa tanda jasa.