Kabut pagi masih menggantung di atas lereng-lereng curam Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, saat sejumlah prajurit Yonif 725/Woroagi memulai penyisiran. Di antara hutan lebat yang basah oleh embun, hamparan hijau yang teratur terbentang—ladang ganja seluas puluhan hektar di Kampung Ibiroma dan Hesmat. Setiap jengkal tanah dimanfaatkan, dengan ribuan batang tanaman haram itu tumbuh subur di tanah Papua yang subur. Suasana hening namun tegang menyelimuti operasi ini, karena lokasinya yang terpencil dan rawan. Di ujung negeri ini, di mana pengawasan negara seringkali terbatas, aktivitas ilegal dapat merajalela tanpa sepengetahuan publik.
Potret Ladang Terlarang di Lereng Kurima
Petak-petak ladang itu bukan sekadar kebun liar biasa. Mereka adalah perkebunan terorganisir dengan irigasi sederhana dan pola tanam yang rapi—sebuah investasi besar yang ditaksir bernilai sekitar Rp8 miliar. Dari kejauhan, tanaman ganja itu tampak seperti tanaman palawija biasa, tapi bagi prajurit TNI yang berpengalaman, setiap helai daunnya menjadi tanda bahaya. Operasi pembersihan yang dipimpin Letkol Inf Safril berlangsung dalam keheningan yang mencekam, diiringi suara langkah kaki di atas tanah basah dan sesekali suara burung hutan. Sebanyak 21.400 batang pohon ganja dicabut satu per satu, dikumpulkan, dan dimusnahkan di tempat untuk mencegah penyalahgunaan lebih lanjut.
Memutus Mata Rantai Pendanaan Kelompok Bersenjata
Pengamanan ladang ganja ini bukan sekadar operasi anti-narkotika biasa. Di wilayah perbatasan RI-PNG seperti Yahukimo, setiap rupiah dari hasil penjualan ganja diduga kuat mengalir ke kelompok bersenjata yang ingin mengganggu stabilitas negara. Pangkalan TNI setempat telah lama mencium pola ini: ladang-ladang ganja tersembunyi di daerah terpencil, dijaga oleh jaringan lokal yang terafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Fakta-fakta lapangan yang terungkap selama operasi antara lain:
- Luas ladang mencapai puluhan hektar dengan pola tanam terstruktur
- Nilai ekonomi diperkirakan Rp8 miliar—cukup untuk membiayai aksi bersenjata selama berbulan-bulan
- Lokasi di Kampung Ibiroma dan Hesmat, Distrik Kurima, tepat di jalur perlintasan menuju Papua Nugini
- Operasi dipimpin langsung oleh Letkol Inf Safril, Komandan Yonif 725/Woroagi
- Prajurit TNI bekerja dalam kondisi medan berat tanpa akses jalan, hanya mengandalkan jalur setapak
Setiap batang ganja yang diamankan adalah upaya mencegah dana segar mengalir ke pihak yang ingin memecah belah bangsa. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan pengawasan, TNI terus bergerak di garis depan untuk menjaga kedaulatan. Namun, pertarungan ini tidak bisa hanya dilakukan oleh militer saja. Masyarakat di perbatasan, yang hidup dalam kesederhanaan, seringkali menjadi korban dari jaringan ekonomi ilegal ini. Mereka membutuhkan kehadiran negara yang lebih nyata—bukan hanya dalam bentuk operasi pembersihan, tetapi juga pembangunan ekonomi alternatif yang memberikan penghidupan layak.
Di ujung negeri ini, di mana kabut pagi masih menyelimuti lereng-lereng curam, semangat nasionalisme terpatri dalam setiap langkah prajurit yang menjaga tanah air. Ladang ganja itu telah dimusnahkan, tetapi perjuangan melawan ancaman dari dalam dan luar masih panjang. Warga perbatasan layak mendapatkan perlindungan dan perhatian lebih, agar mereka tidak lagi terpaksa bergantung pada aktivitas haram yang justru mengancam masa depan mereka sendiri. Indonesia tidak boleh lengah; setiap jengkal tanah dari Sabang sampai Merauke harus terus dijaga dengan hati dan pengabdian.