Senja mulai merangkak di ufuk timur, menyisakan semburat jingga yang perlahan memudar digantikan kelam malam. Di Kampung Yeti, sebuah permukiman di perbatasan RI-Papua Nugini, titik-titik cahaya perlahan muncul satu per satu. Bukan dari generator diesel yang gemuruh, melainkan dari panel-panel surya yang terpasang rapi di atap-atap rumah panggung. Pemandangan ini adalah babak baru bagi warga yang selama puluhan tahun akrab dengan kegelapan total saat matahari tenggelam.
Potret dari Beranda Negeri: Saat Lampu Menyala di Ujung Senja
Di salah satu rumah panggung, Nelly, seorang ibu dengan tiga anak, sibuk menekan tombol televisi yang tiba-tiba menyala. Layarnya memancarkan sinar biru samar, menyinari wajah cemas sekaligus gembira anak-anaknya yang berkumpul. “Dulu, begitu magrib, kami hanya bisa tidur. Sekarang, mereka bisa belajar. Lihat, lampu LED 15 watt ini sudah cukup untuk menerangi ruang tengah,” ujarnya sambil menunjuk bohlam kecil di atas meja belajar kayu.
Proyek PLTS berkapasitas 10 kW ini bukan sekadar infrastruktur. Ini adalah hasil kolaborasi Kementerian ESDM dengan TNI, yang melihat bahwa kebutuhan dasar di perbatasan Papua Nugini tak boleh diabaikan. Dari kejauhan, di seberang tapal batas, pantulan cahaya dari perkampungan di Papua Nugini juga terlihat samar. “Kami bangga. Akhirnya kami setara dengan tetangga seberang,” ujar Kepala Kampung Yeti dengan suara bergetar, menatap hamparan lampu yang perlahan mengubah wajah malam di garis depan.
Infrastruktur listrik perbatasan ini memberikan dampak yang tak terduga. Bukan hanya penerangan, tetapi juga harapan baru.
- Anak-anak kini bisa belajar dengan tenang di malam hari tanpa harus menggunakan lampu minyak tanah yang berasap dan berbahaya.
- Posko keamanan di perbatasan juga menikmati pasokan listrik, memudahkan komunikasi dan tugas patroli malam.
- Warga yang sebelumnya bergantung pada genset pribadi berbahan bakar mahal, kini bisa menghemat pengeluaran hingga 70 persen.
Di ujung senja, saat lampu-lampu PLTS mulai menyala, Kampung Yeti bukan lagi sekadar titik di peta yang gelap. Garis depan kini terang benderang — bukan oleh sorot mobil patroli, melainkan oleh energi yang lahir dari sinar matahari tropis. Cahaya itu bukan hanya menerangi jalan setapak di antara rumah-rumah panggung, tetapi juga menggugah kesadaran bahwa saudara-saudara kita di ujung negeri berhak atas kehidupan yang layak. Mereka adalah penjaga teritori, dan kini, mereka menjadi bagian dari cerita Indonesia yang tak pernah gelap lagi.