Kabut dingin masih menggantung rendah di lembah Kampung Kombanu, Distrik Wano Barat, Papua Pegunungan, saat rombongan Satgas Pamtas Yonif 742/SWY tiba menjelang pagi. Di pinggir sungai yang airnya jernih namun menusuk tulang, beberapa mama-mama sedang membasuh sayuran — pemandangan yang membuka hari di ujung negeri. Bukan senjata yang mereka bawa, melainkan kotak P3K dan senyum hangat. Sertu Thomas Tefi, yang sudah fasih berbahasa setempat, menyapa para mama itu dengan sapaan khas, memecah kecanggungan awal. “Kami datang bukan sebagai tentara, tapi sebagai saudara,” ujarnya sambil membantu mengangkat sayuran ke atas batu.
Pengobatan Gratis di Tengah Keterbatasan
Di dalam Honai Bapa Kolingga Talengen, cahaya temaram dari perapian tanah liat menerangi wajah-wajah penuh harap. Di sinilah prajurit TNI membuka kotak obat sederhana, memeriksa tekanan darah, mengobati luka kecil, dan mendengarkan keluhan kesehatan warga. Asap mengepul ke atap jerami, bercampur dengan cerita-cerita warga yang selama ini terisolasi. Sejumlah fakta lapangan menggambarkan betapa beratnya hidup di wilayah ini:
- Akses logistik terputus akibat konflik di Wamena — warga harus menempuh jalur Agandugume yang jauh dan berbahaya.
- Puskesmas terdekat berjarak puluhan kilometer, hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki selama berhari-hari.
- Obat-obatan dasar seperti parasetamol dan betadine menjadi barang langka, sementara luka dan infeksi jamur merajalela akibat kelembaban tinggi.
“Kami harus mengambil lewat Agandugume, jalannya jauh dan berat. Kadang tidak ada yang bisa diangkut karena semua harus dipikul sendiri,” ujar Bapa Nis Talengen sambil matanya berkaca-kaca. Di sudut honai, seorang prajurit mencatat setiap keluhan — bukan hanya data medis, tapi juga keresahan hati warga pedalaman yang merasa dilupakan.
Dialog dari Hati ke Hati: Merawat Nasionalisme
Letkol Dedi Risdiantoro, Komandan Satgas, duduk bersila di lantai tanah honai. Di hadapannya, puluhan warga duduk melingkar, tanpa jarak. Komsos (Komunikasi Sosial) bukan sekadar formalitas — di sini, di antara asap perapian dan suara kicauan burung mambruk, terjadi dialog yang luluh antara seragam loreng dan kain noken. “Kehadiran kami bukan sekadar untuk keamanan, agar saudara-saudara kita merasa aman dan terbantu,” tegas Letkol Dedi. Warga bercerita tentang mimpi mereka: sekolah untuk anak-anak yang berpuluh kilometer, jembatan yang belum jadi, dan harapan agar pemerintah pusat tidak melupakan mereka.
Di luar honai, kabut mulai menipis, menyisakan pemandangan pegunungan yang megah namun sunyi. Prajurit lain membantu memperbaiki atap rumah warga yang bocor — sebuah simbol bahwa kehadiran Satgas bukan hanya bicara, tapi juga aksi. Di garis depan seperti Papua Pegunungan, setiap senyum warga adalah medali, setiap keluhan yang didengar adalah tugas negara. Malam turun cepat, dan rombongan Satgas Pamtas Yonif 742/SWY kembali ke pos, meninggalkan honai dengan harapan baru: bahwa di ujung negeri, tidak ada satu pun anak bangsa yang berjuang sendirian.