Sore mulai merayap di Desa Mamboro, Sumba Barat Daya. Anak-anak berhamburan pulang dari sekolah, langkah kaki mereka berdebu di jalan setapak yang diapit ilalang kering. Mentega jingga matahari perlahan tenggelam ke dalam Samudera Hindia, meninggalkan langit yang memerah. Begitu malam tiba, desa di ujung perbatasan laut ini berubah menjadi lautan gelap yang pekat. Hanya beberapa titik cahaya kuning samar yang muncul dari celah-celah dinding rumah panggung kayu — lampu minyak tanah yang menjadi penopang aktivitas malam warga. Dari salah satu rumah, terdengar suara desah napas dan sesekali batuk kecil. Di dalam, Maria (15), pelajar kelas 9, duduk bersila di lantai anyaman bambu. Buku pelajaran terbuka di pangkuannya, diterangi cahaya temaram lampu tempel. Asap hitam mengepul perlahan, membentuk pola di langit-langit yang sudah lama menghitam oleh jelaga. Siluet tubuhnya yang membungkuk menjadi potret bisu perjuangan pendidikan di garis depan negeri.
Malam di Garis Depan: Lampu Minyak Temani Belajar
Maria menghela napas saat meniup sumbu lampu yang mulai berkerak. “Listrik hanya menyala dari jam 6 sampai 10 malam,” jelasnya dengan suara lirih. “Kalau ada tugas banyak, harus dibagi antara sore dan malam, atau terpaksa bangun pagi-pagi sekali sebelum listrik padam lagi.” Kondisi ini bukan hanya dialami Maria. Hampir seluruh pelajar di desa-desa perbatasan Sumba yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia merasakan hal yang sama. Pasokan listrik dari PLN hanya mengandalkan genset diesel yang bahan bakarnya sering terlambat datang karena cuaca buruk. Gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan deras kerap memutus akses laut, membuat kapal pengangkut solar tertahan selama berhari-hari. Akibatnya, listrik yang sudah sangat terbatas pun semakin tidak menentu. Di malam hari, pemandangan Mamboro seperti mundur ke masa lalu: rumah-rumah panggung hanya diterangi oleh api kecil lampu minyak, suara desir pena di atas kertas terdengar sayup, dan sesekali batuk karena menghirup asap pembakaran.
Genset Diesel dan Ketergantungan Cuaca
Infrastruktur kelistrikan di Mamboro sangat bergantung pada mesin diesel yang sudah berusia puluhan tahun. Berdasarkan informasi dari warga setempat, berikut beberapa kondisi riil di lapangan:
- Genset utama hanya mampu menyuplai listrik maksimal 4 jam sehari, biasanya dari pukul 18.00 hingga 22.00 WITA.
- Pasokan solar sering terlambat karena cuaca buruk; kapal pengangkut bahan bakar hanya bisa merapat ketika ombak tenang, yang di musim barat bisa terjadi hanya 2-3 kali sebulan.
- Akibatnya, selama beberapa hari berturut-turut tidak ada listrik sama sekali, dan warga harus kembali ke lampu minyak atau lilin sebagai penerangan utama.
- Harga minyak tanah di tingkat pengecer mencapai Rp15.000 per liter, memberatkan ekonomi keluarga yang sebagian besar adalah petani dan nelayan.
- Rumah sakit dan puskesmas setempat pun mengalami kesulitan, harus mengandalkan genset cadangan yang terbatas untuk melayani pasien di malam hari.
“Kalau listrik padam, kami hanya berdoa semoga lampu minyak tidak jatuh dan membakar rumah,” ujar Ibu Ria, ibu dari dua anak pelajar di Mamboro, dengan nada pasrah. “Anak-anak tetap semangat belajar meski matanya perih karena asap. Saya hanya bisa menyediakan minyak seadanya.” Semangat para pelajar ini justru menjadi penerang di tengah keterbatasan. Mereka rela bangun jam 4 pagi untuk menyelesaikan PR sebelum fajar, atau bergantian meminjam lampu senter milik tetangga. Namun, keterbatasan ini meninggalkan luka diam-diam: banyak anak yang mengalami gangguan penglihatan, batuk kronis, bahkan iritasi mata akibat paparan asap minyak tanah setiap malam.
Di sudut lain Pulau Sumba, masih banyak desa yang bernasib sama. Butuh lebih dari sekadar genset diesel untuk menerangi masa depan mereka. Ketika malam semakin larut di Mamboro, lampu-lampu minyak masih menyala kecil-kecil di setiap rumah panggung. Di balik setiap titik api itu, ada mimpi besar anak-anak perbatasan yang tak mau padam. Mereka menulis dengan pena di bawah cahaya jelaga, namun harapan mereka membara seterang fajar yang akan tiba. Sudah saatnya negeri ini benar-benar hadir untuk mereka — bukan sekadar janji, melainkan jaringan listrik yang stabil, sekolah yang terang, dan masa depan yang layak. Karena pendidikan di garis depan adalah harga mati. Mereka yang belajar dalam gelap hari ini, berhak mendapatkan cahaya di esok hari.