Pagi itu, aroma nasi liwet dan ikan asin menyatu dengan embun yang masih menggelayut di dedaunan. Dari pelataran markas komando sektor perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, terdengar gelak tawa dan suara centong menyenduk nasi. Letkol Kurniawan, komandan batalion yang bertugas di ujung negeri ini, terlihat duduk bersila di atas anyaman bambu bersama puluhan warga sekitar. Mereka makan dari satu piring yang sama, menikmati sambal terasi khas Kalimantan yang pedas menggugah selera. Di sela suapan, obrolan ringan mengalir—tentang harga gabah, kondisi jalan setapak menuju ladang, dan rencana gotong royong minggu depan. Tak ada jarak antara seragam loreng dan kain sarung, antara perwira dan petani. Yang ada hanyalah kebersamaan yang utuh.
Makan Patungan: Tradisi Merawat Persaudaraan di Garis Depan
Tradisi makan patungan ini sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu, ketika Letkol Kurniawan mulai bertugas di Pos Pamtas Entikong. Setiap Jumat pagi, para anggota TNI dan warga desa menyisihkan sedikit rezeki untuk membeli beras, ikan asin, dan cabai. Mereka memasak bersama di dapur lapangan yang sederhana. "Kami tidak ingin ada jarak. Di sini, kami satu keluarga," ujar Letkol Kurniawan sambil menyendok sambal ke piring warga. Seorang ibu bernama Siti, yang rumahnya hanya dua kilometer dari pos, tersenyum lebar. Katanya, kehadiran TNI membuatnya merasa aman walau tinggal di jantung perbatasan. "Kami saling membantu. Kalau ada masalah, bapak-bapak TNI selalu pertama datang," ujarnya.
- Setiap Jumat pagi, warga dan TNI patungan membeli bahan makanan di warung desa.
- Menu andalan: nasi liwet, ikan asin goreng, dan sambal terasi racikan nenek Rukayah.
- Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus deteksi dini potensi kerawanan di perbatasan.
Potret Garis Depan: Antara Tembok Negara dan Kehangatan Rakyat
Letkol Kurniawan menunjuk ke arah timur, di mana pepohonan lebat menutupi batas negara yang tak nampak. "Kami tidak hanya menjaga teritorial. Kami juga menjaga hati," katanya. Di sektor Entikong, kondisi infrastruktur masih terbatas. Jalan utama berlubang, listrik padam bergilir, dan sinyal telepon sering hilang. Namun, semangat kebersamaan antara TNI dan warga perbatasan justru menjadi benteng paling kuat. Ketika seorang warga jatuh sakit, tim TNI siap antar ke puskesmas. Ketika pasokan air bersih menipis, mereka bergotong royong membawa ember dari sungai. Makan patungan bukan sekadar mengisi perut—ia adalah napas kepercayaan yang terus dirawat di garis depan.
Di balik kesederhanaan anyaman bambu, tersimpan makna besar: bahwa Negara hadir bukan hanya dalam bentuk bendera, tetapi dalam sendok nasi yang disuap bersama. Kehangatan ini membuktikan bahwa di ujung manapun negeri, selama TNI dan rakyat duduk satu piring, maka batas-batas buatan manusia tak akan mampu merenggangkan jiwa yang satu. Saat matahari perlalu naik, nasi liwet habis, dan bau sambal masih melekat di ujung jari, mereka semua—perwira dan warga perbatasan—paham bahwa keharmonisan adalah senjata paling mujarab di tanah perbatasan.