NASIONALISM

Masyarakat Adat Dayak Iban di Perbatasan Malaysia Rayakan Satu Nusa, Satu Bangsa

Masyarakat Adat Dayak Iban di Perbatasan Malaysia Rayakan Satu Nusa, Satu Bangsa

Di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kecamatan Badau, Kalimantan Barat, masyarakat adat Dayak Iban merayakan Sumpah Pemuda dalam upacara adat Gawai di rumah betang. Dengan semangat kebangsaan yang tinggi, para tetua dan pemuda setempat menunjukkan bahwa hidup di garis batas tidak mengurangi rasa cinta pada NKRI. Potret nasionalisme ini dibingkai oleh budaya, suara warga yang bekerja di Malaysia, dan teguhnya bendera merah putih di ujung negeri.

Di ujung barat Kalimantan, tepat di Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, udara pagi masih diselimuti kabut tipis dari perbukitan yang memisahkan Indonesia dan Malaysia. Kampung adat Dayak Iban ini tampak berbeda. Dari kejauhan, rumah betang panjang yang baru direnovasi menjadi pusat perhatian. Tonggak-tonggak kayu ulin yang kokoh dihiasi kain merah putih, berkibar lembut diterpa angin perbatasan. Di halaman, para tetua adat duduk bersila mengenakan kain tenun dan baju tradisional lengkap dengan bulu burung enggang di kepala — simbol kehormatan dan keberanian. Anak-anak muda berseragam kemeja putih dan celana pendek berdiri rapi di samping mereka. Suara gong dan tawa riang bercampur dengan alunan doa dari pembacaan Sumpah Pemuda. Inilah wajah nasionalisme di garis depan: Satu Nusa, Satu Bangsa, dirayakan dengan adat dan semangat yang tak pernah padam.

Gawai dan Sumpah Pemuda: Merajut Persatuan di Rumah Betang

Upacara adat Gawai bukan sekadar ritual tahunan; hari ini dirangkai dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda oleh pemuda setempat. Kepala Adat, Apai Jalong, berdiri di tengah lingkaran, suaranya menggetarkan tanah lempung. “Kami ingin menunjukkan bahwa meski hidup di garis batas, hati kami tetap Indonesia,” ujarnya, sambil menunjuk ke arah patung Garuda hasil kerajinan lokal yang berdiri di sudut halaman. Acara kemudian diisi dengan tarian ngajat — gerakan gemulai yang menggambarkan kehidupan alam hutan — dan dilanjutkan dengan makan bersama. Nasi lemak, ikan asin, dan sambal terasi menjadi menu utama, disantap di atas daun pisang. Diskusi tentang sejarah perbatasan pun hangat berlangsung. Para tetua bercerita tentang masa perjuangan, sementara anak-anak muda bertanya tentang arti merah putih di tanah kelahiran mereka.

  • Rumah betang berukuran 40 meter dengan 12 bilik keluarga, menjadi lambang kebersamaan adat Dayak Iban di perbatasan.
  • Kain merah putih tidak hanya menghiasi tiang, tetapi juga dikenakan sebagai selempang oleh peserta upacara.
  • Patung Garuda setinggi dua meter yang dibuat oleh perajin lokal menjadi latar foto bersama — simbol bahwa di ujung negeri pun, Indonesia tetap berdiri tegak.

Nasionalisme dari Garis Batas: Suara Warga yang Bekerja di Malaysia

Tidak hanya warga yang sehari-hari tinggal di kampung, beberapa dari mereka yang bekerja di Malaysia juga hadir. Mereka pulang khusus demi mengikuti upacara ini. Salah satu pemuda, Andi, yang bekerja di sektor perkebunan di Sarawak, bercerita sambil matanya berkaca-kaca. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kebun, ia mengibarkan bendera merah putih di tiang bambu di depan rumahnya yang hanya berjarak sepuluh meter dari pos perbatasan Malaysia. “Merah putih adalah harga mati,” tegasnya. Budaya dan nasionalisme memang tak bisa dipisahkan di kampung ini. Mereka percaya, dengan merawat adat, mereka juga merawat Indonesia. Suasana haru dan semangat persatuan terasa kental, terutama saat semua peserta bergandengan tangan dan menyanyikan “Dari Sabang Sampai Merauke”.

Foto bersama dengan latar patung Garuda mengingatkan semua yang hadir akan satu tujuan: Indonesia. Di tengah riuhnya tawa dan alunan musik tradisional, pesan dari garis depan ini jelas: bangsa ini kuat bukan karena batas-batas administrasi, tetapi karena denyut nadi rakyatnya di setiap jengkal tanah air. Dari rumah betang di perbatasan Kalimantan, masyarakat adat Dayak Iban telah membuktikan bahwa nasionalisme lahir dari hati, bukan dari jarak. Inilah potret nyata garis depan — sederhana, tulus, dan menggetarkan.

Perayaan Sumpah Pemuda Masyarakat Adat Dayak Iban Perbatasan Indonesia-Malaysia
Tokoh: Apai Jalong, Andi
Lokasi: Indonesia, Malaysia, Kalimantan Barat, Kecamatan Badau

Artikel terkait