Embun pagi masih menggantung di ujung daun pohon tengkawang saat sekelompok pria dan wanita Dayak Pesisir dari Desa Serindit, Kecamatan Sambas, Kalimantan Barat, memulai perjalanan mereka. Langkah kaki mereka menapaki tanah lembap yang dipenuhi akar-akar pohon, sementara parang terayun di tangan, siap menyingkap ranting-ranting yang menghalangi jalan. Mereka tengah memeriksa batas hutan adat yang berada tepat di garis perbatasan Indonesia-Malaysia. Di kejauhan, kepulan asap tipis mengepul dari dapur rumah panggung tradisional di tepian sungai kecil yang menjadi batas alam antara kedua negara. Suasana hening, hanya diiringi suara burung dan gemericik air sungai yang mengalir pelan. Matahari mulai meninggi, menyibak kabut pagi yang menyelimuti pepohonan. Di titik ini, batas negara bukan sekadar garis di peta; ia hidup dalam setiap jejak yang dilindungi dan langkah yang dijaga.
Hutan Adat yang Tak Ternilai: Sumber Kehidupan di Garis Depan
Bagi masyarakat Dayak Pesisir, hutan adat ini bukan sekadar kumpulan pohon dan semak belukar. Hutan ini adalah warisan leluhur yang tak ternilai, yang mereka jaga sejak turun-temurun di ujung negeri. Para tetua adat, seperti yang diungkapkan oleh Kepala Adat Desa Serindit, menegaskan bahwa hutan ini adalah sumber air bersih, pangan dari buah-buahan liar dan hasil buruan, serta obat-obatan tradisional yang menyembuhkan berbagai penyakit. Kini, di tengah tekanan dari luar — seperti pembalakan liar dan perambahan oleh oknum asing — mereka semakin waspada. Setiap hari, giliran patroli adat berjalan menyusuri batas-batas hutan, memastikan tidak ada jejak kayu yang dipotong semalaman atau jejak mesin gergaji yang dibiarkan diam di semak-semak.
- Kondisi Geografis Lokasi: Hutan adat ini berada di perbukitan rendah yang terjal, dengan sungai kecil sebagai batas alami perbatasan. Akses menuju lokasi hanya melalui jalan setapak yang berlumpur, terutama saat musim hujan.
- Ancaman yang Dihadapi: Pembalakan liar oleh oknum asing yang sering menyusup dari perbatasan Malaysia, serta perembesan lahan pertanian ilegal yang mengancam kelestarian.
- Upaya Masyarakat: Patroli rutin oleh warga, pemasangan tanda batas adat, dan pendataan flora-fauna endemik yang menjadi indikator kesehatan hutan.
Selain patroli, mereka juga merintis kemitraan dengan Peace Corps dan BKSDA setempat untuk mengembangkan ekowisata dan agroforestri kopi organik. Kopi ini nantinya tidak hanya dipasarkan ke pasar lokal Kalimantan Barat, tetapi juga hingga ke Malaysia. Langkah ini nyata: menjaga hutan adat sambil meningkatkan taraf hidup warga di perbatasan.
Potret Kearifan Lokal: Nasionalisme dari Akar Budaya
Di sebuah rumah panggung di tepi sungai, para perempuan Dayak Pesisir duduk melingkar, menumbuk biji kopi kering dengan alu kayu. Aroma kopi yang harum bercampur dengan asap dapur membumbung ke udara. Mereka bercerita bahwa lingkungan sekitar telah berubah; dulu lebih mudah mencari rotan dan madu liar, kini harus berjalan lebih jauh. Namun semangat mereka tidak surut. “Kami menjaga hutan ini karena ini milik kami, bukan untuk orang luar yang ingin merusak,” ujar salah satu tetua perempuan sambil mengelap keringat di dahinya.
- Suara Warga: “Kami tidak boleh lelah, karena jika hutan ini hilang, maka kami akan kehilangan segalanya. Air akan kering, pangan tidak ada. Kami harus berjuang,” kata Pak Kaling, warga setempat yang memimpin patroli adat.
- Dampak Positif: Dengan ekowisata, beberapa pemuda desa kini bekerja sebagai pemandu wisata bagi tamu dari Malaysia dan Kalimantan Barat. Ini membuka peluang ekonomi baru tanpa merusak alam.
- Nilai Budaya: Ritual adat seperti Masyarakat adat Dayak Pesisir masih rutin dilakukan di titik-titik inti hutan, memperkuat ikatan antara adat, manusia, dan alam.
Potret kearifan lokal dan kegigihan menjaga kedaulatan lingkungan di garis depan ini menjadi inspirasi bahwa nasionalisme tak selalu tentang seragam militer, tetapi juga mengakar dari kekuatan akar budaya lokal. Masyarakat adat Dayak Pesisir di perbatasan Kalimantan Barat telah membuktikan bahwa cinta tanah air adalah aksi nyata: setiap langkah di hutan, setiap biji kopi yang ditanam, dan setiap teguk air yang diminum dari sungai adalah bukti bahwa kedaulatan bermula dari kemauan untuk menjaga warisan leluhur di garis terdepan negeri.
Di ujung negeri, di mana senja membentang di atas bukit-bukit hijau yang menjadi batas negara, warga Dayak Pesisir di Desa Serindit terus melangkah. Mereka tidak mengenakan seragam, tetapi tekad mereka lebih kuat dari baja. Nasionalisme bukan sekadar pasang bendera di tiang; ia hidup di tangan-tangan yang mengurus tanah, di langkah kaki yang menjaga batas, dan di hati yang tak pernah menyerah untuk merawat warisan leluhur. Mari kita tengok sejenak ke arah sana, ke ujung negeri, di mana setiap dedaunan dan setiap tetes air yang dijaga adalah bukti kecintaan pada Indonesia. Kepedulian kita terhadap mereka — terhadap hutan, adat, dan batas — adalah investasi untuk masa depan bangsa yang lebih kokoh.