INFRASTRUKTUR

Mendagri Tinjau Langsung Pos Lintas Batas Darat (PLBD) Entikong, Perkuat Pengawasan dan Layanan

Mendagri Tinjau Langsung Pos Lintas Batas Darat (PLBD) Entikong, Perkuat Pengawasan dan Layanan

Mendagri meninjau langsung Pos Lintas Batas Darat (PLBD) Entikong di Kalimantan Barat, menyaksikan suasana ramai lintasan warga dan keluhan soal infrastruktur seperti mesin X-ray dan ruang tunggu. Warga serta pemerintah daerah berharap perhatian pusat segera direalisasikan demi pengawasan dan kenyamanan yang lebih baik di pintu gerbang perbatasan. Artikel ini menggambarkan potret nyata garis depan Indonesia di Kalimantan yang membutuhkan dukungan sarana demi penguatan kedaulatan.

Di tengau pagi, Mentari bersinar terik di atas hamparan aspal Pos Lintas Batas Darat (PLBD) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Udara lembab bercampur aroma kopi dan knalpot kendaraan dari seberang—Sarawak, Malaysia—menyapa siapa pun yang melintas. Di sini, denyut nadi perbatasan berdetak lewat antrean para pekerja migran dan pelaku usaha yang setiap hari menunggu giliran diperiksa petugas. Hari itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tiba dengan langkah mantap, menyusuri setiap sudut PLBD yang menjadi salah satu pintu gerbang resmi paling ramai di ujung pulau Kalimantan. Sesekali, beliau berhenti untuk menyapa seorang ibu dengan anak kecil di gendongan yang baru turun dari bus berpelat Malaysia—wajahnya letih, tapi senyumnya merekah karena akhirnya bisa pulang ke tanah air.

Suara Rakyat dan Infrastruktur di Garis Depan

Dari balik meja pemeriksaan, petugas Imigrasi Entikong sibuk menstempel paspor. Tapi di luar, diemperan teras, keluhan pelan terdengar dari sekelompok pedagang yang membawa karung berisi barang dagangan. Mereka mengeluhkan sempitnya ruang tunggu dan waktu tunggu yang panjang. "Kami di sini setiap hari, Pak Menteri. Kadang antre sampai 2 jam. Kalau ada mesin X-ray baru, pasti lebih cepat," ujar salah seorang warga kepada Mendagri saat beliau berdialog langsung di lapangan. Pria itu lalu menunjuk ke arah mesin X-ray yang ada—usianya sudah 'uzur', sering mati mendadak. Dari catatan lapangan Lensa-Teritorial, setidaknya tiga poin utama yang menjadi prioritas warga di PLBD Entikong:

  • Penambahan mesin X-ray – untuk mempercepat pemeriksaan barang dan mencegah penumpukan antrean.
  • Perbaikan ruang tunggu – butuh tempat teduh dan kursi lebih banyak bagi ibu hamil, lanjut usia, dan anak-anak.
  • Penambahan pos penjagaan – mengingat panjangnya jalur perbatasan di Kalimantan Barat yang kerap dijadikan celah penyelundupan.

Kepala PLBD Entikong, saat ditemui, menambahkan, "Kami siap mental, tapi butuh dukungan alat. Ini perbatasan strategis, bukan hanya untuk keluar-masuk orang, tapi juga untuk menjaga martabat negara."

Napas Panjang dari Pusat untuk Ujung Negeri

Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau, yang mendampingi langsung kunjungan tersebut, menyuarakan harapan serupa. Di hadapan Mendagri, ia menyampaikan bahwa posisi Entikong sebagai pintu gerbang resmi di Kalimantan Barat sudah semestinya mendapat prioritas pembangunan. "Kapasitas penjagaan harus terus ditingkatkan. Ini adalah wajah negara kita di perbatasan Kalimantan. Jika tertib dan modern, itu akan memperkuat rasa aman warga, dan juga menekan praktik ilegal," ujarnya. Usai berkeliling, Mendagri berjanji akan mengevaluasi kebutuhan tersebut dan mempercepat alokasi anggaran tahun depan. Namun, bagi warga yang tiap pagi melintas, janji itu adalah harapan yang harus segera diwujudkan menjadi beton, genteng, dan mesin yang siap pakai.

PLBD Entikong bukan sekadar pos lintas batas—ia adalah cermin dari cengkeraman dan perjuangan menjaga kedaulatan di garis depan. Di sini, setiap detiknya ada ibu yang menggendong rindu, pedagang yang menggenggam mimpi, dan petugas yang bertahan dengan segala keterbatasan. Semua berakar pada satu keyakinan: bahwa Indonesia ada, hadir, dan berdaulat hingga titik paling ujung. Hentakan langkah Mendagri di tanah Entikong kali ini, diiringi embusan angin dari hutan-hutan Kalimantan, adalah hembusan napas panjang dari pusat yang mengingatkan—bahwa warga perbatasan bukan sekadar penjaga tapal batas. Mereka adalah dirgahayu republik yang tak boleh dilupakan.

Kunjungan Kerja Mendagri Pengawasan Pos Lintas Batas
Lokasi: Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, Sarawak, Malaysia, Indonesia

Artikel terkait