Dua jam perjalanan dari pusat Kota Sanggau, aspal hitam yang mulus perlahan menghilang, berganti tanah merah berbatu yang membentang sejauh mata memandang. Di musim kemarau, debu tebal beterbangan, menutupi pandangan dan membuat napas terasa sesak. Saat hujan tiba, ruas jalan ini berubah menjadi lumpur licin yang kerap membuat kendaraan roda dua terjebak. Tepat di Desa Balai Karangan, Kecamatan Entikong, sebuah truk pengangkut kelapa sawit terperosok dalam lubang sedalam setengah meter—pemandangan yang sudah menjadi hal biasa di jalan perbatasan yang terlupakan ini. Jalan arteri ini adalah satu-satunya akses yang menghubungkan warga perbatasan dengan pusat Kota Sanggau, tempat mereka bergantung untuk menjual hasil bumi, berobat ke puskesmas, dan menyekolahkan anak-anak.
Gotong Royong TNI dan Warga: Menambal Harapan di Jalan Perbatasan Sanggau
Di tengah keterbatasan, semangat kebersamaan justru tumbuh subur. Anggota TNI dari Kodim 1204/Sanggau bersama warga setempat bahu-membahu menimbun lubang dengan batu kali. 'Kami lakukan ini karena jalan ini satu-satunya akses warga ke pasar dan puskesmas. Kalau nunggu proyek pemerintah, makan waktu,' ujar Serka Hendra sambil mengayunkan linggis, dengan keringat membasahi seragam lorengnya. Seorang ibu-ibu pedagang yang melintas tampak geleng-geleng kepala, lalu memotret kondisi jalan untuk dikirim ke media sosial, berharap ada perhatian dari pemerintah pusat. Kebersamaan ini menjadi bukti bahwa di garis depan, kehadiran TNI bukan sekadar simbol, melainkan denyut kehidupan yang menyatu dengan warga.
- Lubang menganga dengan kedalaman hingga setengah meter di beberapa titik, seperti 'kawah kecil' yang mengintai kendaraan.
- Debu tebal saat kemarau dan lumpur licin saat hujan menjadi pemandangan harian yang menguji kesabaran.
- Gotong royong dipilih sebagai solusi sementara karena proyek pemerintah belum turun ke lapangan.
- Truk-truk pengangkut kelapa sawit sering terperosok, memperparah kerusakan jalan dan memperlambat distribusi logistik.
Anak-Anak Garis Depan: Bermain di Tengah Lubang dan Debu
Di tepi jalan yang relatif kering, sekelompok anak-anak bermain sepak bola dengan penuh semangat. Namun bola mereka kerap tergelincir ke dalam lubang becek, disambut tawa riang yang mengusik keheningan. Momen ini menjadi kontras dengan kesulitan akses yang mereka hadapi setiap hari: jalan perbatasan yang rusak membuat mereka kesulitan mencapai sekolah dan mendapatkan bantuan medis. Sebuah foto jurnalistik menangkap bayangan siluet prajurit TNI dan warga yang bersatu di bawah bendera merah putih yang berkibar di pinggir jalan—sebuah gambaran bahwa di garis depan, kebersamaan menjadi benteng terakhir melawan keterbatasan infrastruktur. Anak-anak ini adalah generasi penerus yang tumbuh di lingkungan di mana setiap perjalanan adalah perjuangan, dan setiap lubang adalah pengingat akan pentingnya nasionalisme.
Jalan perbatasan Sanggau adalah cermin perjuangan warga di ujung negeri. Infrastruktur yang rusak memang menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas, namun semangat gotong royong dan kehadiran TNI menjadi pelita di tengah gelapnya keterisolasian. Ketika lubang-lubang itu perlahan ditambal satu per satu, bukan hanya aspal yang kembali menyambung, tetapi juga denyut harapan yang tak pernah padam di garis depan. Dari Sanggau, kita belajar bahwa nasionalisme tidak selalu tentang pidato megah—ia justru ditemukan di balik debu dan peluh, di antara tawa anak-anak yang tetap bermain meski jalan yang mereka injak adalah perjuangan.