Kabut putih menyelimuti puncak-puncak karst di Distrik Ugimba, Papua Pegunungan, menyamarkan medan yang dilalui sekelompok prajurit. Tas carrier mereka basah oleh embun pagi yang menusuk tulang, suhu 5 derajat Celsius membuat nafas mereka mengembun di udara. Kaki-kaki yang dibalut sepatu bot berlumpur itu menapak pelan di antara akar-akar gantung dan bebatuan licin, sebuah perjalanan panjang untuk membawa selembar kain merah dan putih. Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, upacara bendera digelar di sini. Tiang bendera darurat dari kayu hutan didirikan di sebuah lapangan terbuka, dikelilingi rumah-rumah honai dan wajah-wajah penuh tanya masyarakat setempat. Saat sang saka mulai dinaikkan, langit mendung seolah berhasil ditembus oleh seberkas cahaya. Sorak-sorai sederhana pecah, bukan hanya dari para prajurit, tapi juga dari anak-anak yang mungkin baru pertama kali menyaksikan upacara kenegaraan. Gambaran ini bukan sekadar seremoni; ini adalah bukti fisik bahwa dalam kondisi medan terberat sekalipun, komitmen untuk hadir sebagai negara tak pernah padam. Setiap jahitan bendera yang berkibar di ketinggian 2.000 meter lebih di atas permukaan laut adalah simbol bahwa tidak ada sudut Nusantara yang terlalu terpencil untuk dijangkau.