Pagi itu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, masih diselimuti debu yang beterbangan saat seorang warga bernama Yohanes Mau melajukan sepeda motornya dengan hati-hati. Di tangannya, dua karung jagung hasil panen dari ladang di pedalaman menggantung di setang. Aspal di jalur utama menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain tidak lagi mulus. Lubang sedalam 20 sentimeter menganga di tengah jalan, memaksa setiap kendaraan merayap pelan. Di kejauhan, tiang bendera Merah Putih berkibar gagah di pos perbatasan, seolah menjadi saksi bisu ironi infrastruktur di ujung negeri ini.
Jalur Ekonomi yang Terbengkalai
Yohanes Mau, dengan wajah letih namun sabar, menepi di pinggir jalan saat ditemui. 'Sudah tiga tahun tidak diperbaiki, kalau hujan becek, kalau kemarau debu,' katanya sembari mengusap debu di celana. Sepanjang jalan dari Atambua menuju PLBN Motaain, kondisi aspal dan beton memang memprihatinkan. Lubang-lubang besar berjejer, beberapa di antaranya bergelombang, membuat perjalanan menjadi tersendat. Bukan hanya sepeda motor, deretan mobil pickup yang mengangkut hasil bumi—jagung, kopi, dan sayur-mayur—dari pelosok Kabupaten Belu juga terlihat merayap, menghindari lubang yang bisa merusak ban.
- Lubang sedalam 20 sentimeter di aspal—berbahaya bagi sepeda motor dan kendaraan ringan
- Jalur ini merupakan satu-satunya akses utama menuju PLBN Motaain, pintu perdagangan dengan Timor Leste
- Warga mengeluhkan kondisi ini sudah berlangsung tiga tahun tanpa perbaikan dari pemerintah daerah
- Mobil pickup yang membawa hasil bumi sering tersendat, memperlambat distribusi bahan pokok ke pasar Atambua
Setiap kali angin bertiup, debu beterbangan di sepanjang jalan, menambah pekat suasana siang yang terik. 'Akses ini adalah nadi ekonomi kami,' tambah Yohanes, matanya menatap jauh ke arah pos perbatasan. PLBN Motaain, yang menjadi gerbang perekonomian antara Indonesia dan Timor Leste, seharusnya menjadi simbol konektivitas, bukan malah menjadi penghambat mobilitas warga. Namun, di lapangan, infrastruktur yang rusak justru menjadi cerita sehari-hari yang harus dihadapi oleh warga perbatasan.
Harapan di Ujung Bendera
Di tengah hiruk-pikuk keluhan, ada satu pemandangan yang tetap teguh: tiang bendera Merah Putih di pos perbatasan. Bendera itu berkibar lurus tertiup angin, seolah mengingatkan bahwa di garis depan ini, semangat nasionalisme tidak pernah pudar. Warga seperti Yohanes dan para petani lainnya berharap agar pemerintah segera turun tangan memperbaiki infrastruktur ini. Mereka ingin hasil bumi mereka bisa sampai ke pasar tanpa harus khawatir terbalik di lubang jalan. Mereka ingin anak-anak mereka bisa pergi ke sekolah dengan aman, tanpa terhambat debu dan jalan rusak.
Belum ada tanda-tanda perbaikan dari pemerintah daerah, kata Yohanes dengan nada pasrah. Namun, ia dan warga lainnya tidak kehilangan harapan. Di balik setiap lubang yang menganga, ada seribu mimpi untuk hidup lebih baik—akses yang mulus, ekonomi yang tumbuh, dan martabat bangsa yang terjaga di perbatasan. Kabupaten Belu, NTT, dengan segala keterbatasannya, adalah wajah Indonesia yang sebenarnya: keras namun penuh cinta tanah air. Saat kita melihat ke ujung timur negeri, tugas kita adalah memastikan bahwa tak seorang pun di garis depan merasa terlupakan. Jalan rusak boleh ada, tapi semangat untuk memperbaiki harus terus berkobar.