Matahari perlahan tenggelam di ufuk timur, menyisakan jingga yang merambat di balik bukit-bukit hijau perbatasan RI-PNG. Di Kampung Skouw, Kabupaten Jayapura, Papua, titik-titik lampu minyak tanah mulai menyala satu per satu, menggantikan sinar surya yang memudar. Seorang ibu bernama Maria duduk di tangga rumah panggungnya, menggendong buah hati sambil menatap kegelapan yang perlahan membungkus kampung garis depan ini. “Kami hanya punya genset untuk penerangan, itupun hanya 4 jam malam,” ujarnya lirih, suaranya hampir tertelan suara jangkrik dan gemericik air hujan yang masih menggenang di jalan setapak berbatu. Di kejauhan, gemerlap lampu Kota Jayapura yang berjarak hanya beberapa kilometer terlihat kontras—sebuah ironi yang menggambarkan betapa jauhnya kesenjangan antara pusat kota dan kampung yang berdiri di ujung negeri ini.
Potret Senja di Ujung Negeri: Kampung Skouw yang Terlupakan
Jalan setapak berbatu menjadi satu-satunya akses menuju pusat Kampung Skouw. Licin setelah hujan, jalan ini menjadi tantangan bagi warga yang hendak beraktivitas. Tak ada penerangan jalan, tak ada lampu umum yang menyala setelah matahari terbenam. Anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, mengejar bola karet di antara bebatuan yang tajam. Mereka tersenyum, namun senyum itu seolah menyembunyikan kerinduan akan listrik yang tak kunjung datang. Berikut adalah kondisi riil yang tercatat di lapangan:
- Listrik hanya tersedia 4 jam per malam melalui genset milik warga, itupun terbatas pada rumah yang mampu membeli solar.
- Tidak ada jaringan listrik negara (PLN) yang menjangkau Kampung Skouw, padahal kampung ini berada hanya beberapa kilometer dari ibu kota provinsi.
- Akses jalan utama masih berupa tanah dan bebatuan, sulit dilalui kendaraan roda empat saat musim hujan.
- Fasilitas umum seperti puskesmas dan sekolah dasar masih minim penerangan, menghambat pelayanan dan belajar di malam hari.
Harapan di Balik Senyum Anak-Anak Skouw
Di tengah keterbatasan, semangat warga Skouw tak pernah padam. Mereka bergotong royong merawat genset yang menjadi andalan penerangan. Namun, keluhan terus disuarakan. Bapak Markus, tokoh masyarakat setempat, menuturkan, “Kami ingin listrik 24 jam seperti di Jayapura. Anak-anak kami ingin belajar di malam hari tanpa khawatir lampu padam. Ibu-ibu ingin menyetrika baju seragam sekolah.” Suara ini adalah representasi dari ribuan warga di perbatasan yang masih hidup dalam kegelapan. Anak-anak Skouw tetap ceria, berlari di antara bebatuan, namun di mata mereka tersimpan harapan yang dalam—harapan akan terang yang merata, harapan akan kehadiran negara yang lebih nyata di garis depan.
Kampung Skouw bukan sekadar titik di peta perbatasan RI-PNG. Ia adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya: tangguh, penuh harapan, namun masih menanti sentuhan kebijakan yang berpihak. Ketika malam tiba dan lampu minyak tanah mulai berkedip, kita semua diingatkan bahwa saudara-saudara kita di ujung negeri ini layak mendapat penerangan yang layak. Listrik 24 jam bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan simbol kehadiran negara dan rasa keadilan di tanah Papua. Sudah saatnya senyum anak-anak Skouw tidak hanya menyembunyikan kerinduan, tapi juga memantulkan sinar terang dari rumah-rumah mereka setiap malam.