NASIONALISM

Merajut Nasionalisme di Pulau Doom: Anak-Anak Kampung Laut Menyanyikan Lagu Wajib di Atas Perahu

Merajut Nasionalisme di Pulau Doom: Anak-Anak Kampung Laut Menyanyikan Lagu Wajib di Atas Perahu

Di Kampung Laut, Pulau Doom, anak-anak perbatasan menempuh ombak setiap hari demi belajar di sekolah darurat terapung. Meski fasilitas serba terbatas—buku dibagi berempat, listrik hanya nyala beberapa jam—semangat nasionalisme mereka membara lewat nyanyian lagu wajib di atas perahu. Kisah ini mengingatkan kita bahwa cinta tanah air tak mengenal batas geografis.

Matahari pagi menyembul di ufuk timur, menyapu Perairan Raja Ampat dengan semburat jingga keemasan. Di Kampung Laut, Pulau Doom, dermaga kayu yang lapuk mulai ramai oleh langkah kecil berseragam putih-merah. Puluhan anak-anak dengan tas anyaman plastik dan buku lusuh menaiki perahu motor kayu—satu-satunya alat transportasi yang menghubungkan mereka dengan sekolah darurat terapung. Ombak berdebur pelan menghantam lambung perahu, sementara burung camar melayang rendah di atas kepala. Udara pagi yang asin dan segar bercampur dengan suara tawa riang anak-anak yang tak sabar memulai pelajaran. Namun, pagi ini berbeda. Sang guru, Ibu Marta, memerintahkan mesin perahu dimatikan. Keheningan tiba-tiba menyelimuti, hanya suara ombak dan kicauan burung yang terdengar. Seorang siswa kelas 6, Yosua, berdiri tegak di geladak, lalu mulai memimpin teman-temannya menyanyikan lagu 'Tanah Airku'. Suara mereka lirih, nyaris tertelan debur ombak, namun jelas penuh semangat. Beberapa nelayan yang melintas ikut bersenandung, dan ibu-ibu yang sedang menjemur ikan di dermaga menghentikan aktivitasnya, mata mereka berkaca-kaca. "Kami di sini, meski di atas perahu, tetap Indonesia," ujar Ibu Marta dengan suara bergetar.

Potret Pendidikan di Atas Gelombang

Kampung Laut, Pulau Doom, bukanlah kawasan yang mudah diakses. Hanya perahu motor kayu yang menjadi jalur utama bagi anak-anak untuk menimba ilmu. Sekolah darurat terapung berdiri di atas rakit, dengan dinding papan dan atap seng yang sudah berkarat. Tidak ada aula, tidak ada lapangan upacara. Namun, semangat belajar anak-anak tidak pernah surut. Setiap pagi, mereka menempuh perjalanan 15 menit di atas ombak, kadang dihantam angin kencang dan hujan deras. Kondisi infrastruktur pendidikan di sini sangat memprihatinkan:

  • Bangunan sekolah terapung tidak memiliki ruang kelas permanen; papan tulis digantung di tiang bambu.
  • Buku pelajaran terbatas, sering kali harus dibagi berempat untuk satu buku.
  • Listrik hanya menyala beberapa jam saat malam hari, mengandalkan genset pribadi milik guru.
  • Perahu motor kayu, satu-satunya alat transportasi, sering mogok dan harus didorong oleh warga setempat.

Meski demikian, Ibu Marta dan para guru lain tetap mengajar dengan penuh dedikasi. Mereka percaya bahwa pendidikan adalah jembatan nasionalisme di Pulau Doom. "Kami tidak ingin anak-anak ini merasa terpinggirkan. Mereka harus bangga menjadi bagian dari Indonesia, walau di atas perahu sekalipun," kata Ibu Marta sambil membenahi kerudungnya yang tertiup angin laut.

Semangat Nasionalisme Tanpa Batas

Setelah menyanyikan lagu 'Tanah Airku', acara dilanjutkan dengan lagu wajib lainnya—'Indonesia Raya' dan 'Halo-Halo Bandung'. Anak-anak berdiri rapi di atas geladak, tangan di samping badan, pandangan lurus ke depan. Beberapa dari mereka tidak hafal semua lirik, namun suara mereka tetap bersahut-sahutan, penuh rasa bangga. Yosua, yang memimpin lagu, bercerita bahwa ia belajar lagu-lagu ini dari radio desa yang hanya bisa menangkap siaran RRI. "Aku ingin jadi polisi perbatasan. Aku ingin menjaga Indonesia dari ujung paling timur," ujarnya dengan mata berbinar. Semangat nasionalisme tidak diukur dari megahnya bendera atau ramainya upacara, tetapi dari getaran suara anak-anak di atas perahu yang menembus cakrawala Raja Ampat.

Perairan yang tenang seketika terasa syahdu. Anak-anak Kampung Laut tidak punya lapangan upacara, tidak punya pengeras suara, tidak punya seragam baru. Mereka hanya punya perahu, ombak, dan tekad yang membara. Ibu-ibu di dermaga kembali menjemur ikan, tetapi kali ini sambil bersenandung 'Indonesia Raya'. Nelayan yang melintas menghentikan dayungnya, memberi hormat dalam diam. Di pulau kecil yang nyaris terlupakan ini, denyut nasionalisme justru terdengar paling jelas—bukan lewat pidato, melainkan lewat nyanyian anak-anak yang menggema di atas gelombang. Inilah wajah asli Indonesia Timur: jauh dari hiruk-pikuk kota, namun tak pernah lepas dari pelukan Ibu Pertiwi.

Mereka adalah anak-anak bangsa yang lahir di atas air, tumbuh di antara karang, dan bermimpi di bawah langit yang sama. Sudahkan kita mendengar suara mereka? Sudahkan kita peduli dengan perjuangan mereka? Di Pulau Doom, nasionalisme bukan sekadar kata. Ia adalah lagu wajib yang dinyanyikan dengan sepenuh hati di atas perahu, di antara debur ombak yang tak pernah berhenti. Semoga cerita ini menggugah kita semua untuk terus merajut kebangsaan, menghargai setiap pengorbanan, dan hadir bagi mereka yang menjaga garis depan negeri ini dari keterpencilan.

Nasionalisme Pendidikan
Tokoh: Yosua, Ibu Marta
Lokasi: Raja Ampat, Papua Barat, Pulau Doom, Kampung Laut, Indonesia

Artikel terkait