Langit senja di Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, perlahan memerah seperti luka yang tak kunjung sembuh. Dari beranda rumah panggung kayu yang lapuk, mata warga tertuju pada kerlap-kerlip lampu negeri tetangga, Serawak, Malaysia, yang mulai menyala terang hanya beberapa ratus meter di seberang Sungai Badau. Kontras itu terasa perih: di sisi timur, desa-desa Indonesia masih diterangi lampu minyak tanah dan dengung genset tua yang berhenti setiap enam jam. Di tengah ironi inilah, seorang tokoh pemuda setempat, Dedi Irawan, bertekad membawa jeritan hati warga perbatasan Kapuas Hulu hingga ke gedung DPR RI. Ribuan kilometer dari Jakarta, suara dari ujung negeri itu akhirnya menggema di ruang rapat mewah—bukan dalam pidato panjang, melainkan dalam secarik nota kecil yang ia tulis di atas kertas buram.
Jeritan dari Pelosok: Nota di Ruang Mewah DPR
Dedi Irawan, ketua Komunitas Peduli Perbatasan yang sehari-hari menjual pulsa dan mengurus akta desa, diundang dalam Rapat Dengar Pendapat tentang pengembangan kawasan perbatasan. Dengan jaket lusuh dan tas selempang berisi catatan, ia berdiri di hadapan para anggota dewan. Bukan pidato panjang, ia memulai dengan pantun khas Melayu Kapuas Hulu yang membuat ruangan hening, lalu membuka notanya. Di dalamnya tercatat keluhan warga yang tak lekang oleh waktu: jalan berlubang, akses internet terputus-putus, harga karet yang jatuh, dan tidak adanya listrik 24 jam. “Kami tidak butuh janji, kami butuh perbuatan. Kami ingin seperti desa-desa di Malaysia yang hanya 10 menit dari Badau,” ujarnya dengan suara bergetar. Para anggota dewan menatap layar yang menampilkan foto-foto yang ia abadikan sendiri—bukan data statistik, melainkan potret nyata kehidupan di garis depan.
Potret Garis Depan: Lumpur Merah dan Lampu Malaysia
Foto-foto Dedi menjadi jembatan antara Jakarta dan pedalaman. Di layar DPR, tampak anak-anak berangkat ke sekolah dengan perahu kecil saat banjir melanda Sungai Badau, pasar tuma di sisi timur yang hanya ramai seminggu sekali, dan jalan setapak berbatu yang berubah menjadi lumpur merah setia hujan. Potret-potret itu bukan sekadar dokumentasi—mereka adalah jiwa dari garis depan. Berikut gambaran kontras yang ia sampaikan kepada para wakil rakyat:
- Infrastruktur jalan: Jalan utama Badau masih berupa batu kerikil dan tanah liat, sementara Malaysia memiliki aspal mulus dan pom bensin dalam radius 10 menit.
- Kelistrikan: Tiang listrik kayu mendominasi, hanya menyala enam jam sehari. Dari beranda rumah, lampu Malaysia bersinar tanpa jeda, menjadi pengingat akan ketertinggalan.
- Ekonomi warga: Harga karet lokal jatuh hingga Rp3.000 per kilogram, sementara di seberang border petani mendapat harga jaminan dari pemerintah Sarawak.
- Akses digital: Internet hanya bisa diakses di titik-titik tertentu dengan sinyal 2G, menyulitkan anak-anak belajar daring dan petani mencari informasi harga.
“Foto ini saya ambil dengan kamera ponsel seadanya. Tapi bukan soal kualitas gambar, ini soal kenyataan yang harus dilihat bangsa,” kata Dedi kepada media. Catatan dari tokoh pemuda Badau itu bukan sekadar daftar keluhan—ia adalah cermin dari perjuangan warga di perbatasan Kapuas Hulu yang setiap hari menghadapi kontras tak berkesudahan. Di balik setiap gambar, ada mimpi yang tak kunjung padam: mimpi agar negeri ini hadir lebih nyata di ujung-ujungnya. Dari beranda rumah panggung yang lapuk, warga Badau masih menatap lampu Malaysia, namun juga menatap harapan bahwa suatu hari nanti, lampu-lampu dari tanah air sendiri akan menyala terang, 24 jam penuh, menerangi jiwa-jiwa yang setia menjaga pintu gerbang bangsa.