Di perairan perbatasan Indonesia-Filipina, tepatnya di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, matahari pagi menyapu biru laut yang berkilau. Sebuah perahu kayu sepanjang 10 meter dengan atap terpal biru usang berlabuh di dekat pulau karang kecil. Di dalamnya, puluhan anak-anak duduk bersila di atas papan kasar, memegang buku tulis yang lembap oleh percikan air laut. Suara ombak yang berdebur menjadi latar ritmis bagi pelajaran yang sedang berlangsung. Guru relawan, Rina (25), berdiri di buritan dengan papan tulis yang digantung pada tiang kayu, suaranya lantang mengatasi deru angin. 'Kami tidak punya gedung, jadi laut adalah ruang kelas kami. Anak-anak ini berasal dari keluarga yang tidak mampu menyekolahkan mereka ke kota karena jarak dan biaya,' katanya sambil menata kapur yang hampir habis. Di sekitar mereka, perahu-perahu nelayan berseliweran, sesekali membawa ikan hasil tangkapan. Langit biru bersih tanpa awan, namun sinar matahari menyengat kulit. Pemandangan ini adalah potret nyata pendidikan di garis depan, di mana semangat belajar anak-anak perbatasan tak pernah surut meski fasilitas serba darurat.
Ruang Kelas di Atas Ombak: Perjuangan Guru Relawan di Garis Depan
Setiap pagi, Rina dan dua relawan lainnya harus menempuh perjalanan selama satu jam dari pelabuhan terdekat menggunakan perahu motor tempel untuk mencapai lokasi sekolah perahu. Anak-anak yang tinggal di pulau-pulau terpencil seperti Pulau Miangas dan Pulau Marore dijemput dari dermaga darurat. Mereka datang dengan perahu kecil nelayan, beberapa di antaranya bahkan harus berjalan kaki di atas karang saat air surut. Di dalam perahu sekolah, suasana belajar penuh perjuangan. Angin laut sering menerbangkan kertas, dan ombak besar membuat perahu bergoyang hingga anak-anak harus saling berpegangan. Namun, mereka tetap fokus belajar membaca, menulis, dan berhitung. Rina menuturkan, 'Kadang papan tulis jatuh ke laut, tapi kami ambil lagi. Ini sudah biasa.' Kondisi infrastruktur pendidikan di perbatasan sangat memprihatinkan:
- Sekolah permanen tidak ada di pulau-pulau kecil, hanya sekolah darurat di atas perahu yang berpindah-pindah mengikuti jadwal pasang surut.
- Buku dan alat tulis terbatas, sering basah kena air laut, dan harus dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum digunakan.
- Akses air bersih dan listrik sangat minim, sehingga proses belajar hanya berlangsung dari pagi hingga siang hari.
- Relawan guru berganti-ganti setiap bulan karena keterbatasan dana dan tenaga.
Wilayah perairan Filipina yang berbatasan langsung dengan Sulawesi Utara ini menjadi saksi betapa gigihnya para guru dan murid menjalankan proses belajar mengajar di tengah keterbatasan. Perahu kayu yang sama juga digunakan untuk mengangkut logistik pendidikan dari daratan utama, meski sering tertunda akibat cuaca buruk.
Semangat Nasionalisme dari Buku Tulis yang Basah Air Laut
Di tengah segala keterbatasan, semangat nasionalisme anak-anak ini justru berkobar. Andi (10), seorang murid kelas 3 yang tinggal di Pulau Miangas, dengan polos mengungkapkan cita-citanya. 'Saya mau jadi TNI AL, biar bisa menjaga laut kita dari pencuri ikan,' katanya sambil memperlihatkan coretan di buku tulisnya yang basah oleh air laut. Ia menggambar kapal perang dan bendera merah putih. Cerita serupa juga datang dari Maya (9), yang bercita-cita menjadi guru untuk mengajar di sekolah perahu yang sama. 'Saya ingin adik-adik di pulau lain juga bisa belajar seperti saya,' ujarnya dengan mata berbinar. Di sela-sela pelajaran, Rina kerap menyisipkan lagu-lagu kebangsaan dan cerita tentang pahlawan dari Sulawesi untuk menanamkan rasa cinta tanah air. Anak-anak menyanyikan 'Indonesia Raya' dengan lantang, suara mereka bersahutan dengan deburan ombak, seolah menjadi nyanyian perlawanan terhadap ketidakadilan akses pendidikan di ujung negeri.
Potret di atas perahu kayu ini bukan sekadar cerita tentang kelas darurat. Ia adalah cermin dari ketangguhan bangsa yang berakar di garis depan. Di Kepulauan Sangihe, di mana batas negara bertemu dengan laut lepas Filipina, anak-anak ini membuktikan bahwa semangat belajar dan nasionalisme tidak memerlukan gedung megah. Mereka hanya butuh perhatian dan kepedulian kita semua. Ketika buku tulis basah oleh air laut, saat papan tulis jatuh ke ombak, dan ketika guru datang dengan perahu usang, di situlah harga diri bangsa ini dipertaruhkan. Sudah saatnya kita menjadikan pendidikan di perbatasan sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap. Karena di sana, di atas perahu terpal biru, masa depan Indonesia sedang digenggam erat oleh tangan-tangan kecil yang tak pernah lelah berjuang.