Di ujung barat Kalimantan, tepat di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, ribuan warga dari berbagai etnis — Dayak, Melayu, Tionghoa, dan pendatang — menggelar kirab budaya sepanjang 3 kilometer pada Minggu pagi. Jalan setapak beraspal yang membelah hutan perbatasan dipenuhi warna-warni pakaian adat, dari manik-manik khas Dayak hingga kebaya Tionghoa. Udara lembap pagi itu berpadu dengan aroma tanah basah dan asap obor yang dibawa para peserta. Di sisi barat, pagar kawat berduri setinggi dua meter memisahkan Indonesia dari Malaysia, namun tak mampu membendung semangat kebersamaan yang terpancar dari setiap langkah kirab. Suara gong dan nyanyian tradisional menggema di antara pepohonan, sementara anak-anak sekolah — dengan seragam putih merah — membentangkan kain Bhinneka Tunggal Ika berukuran 100 meter persegi, simbol nyata persatuan di garis depan.
Perbatasan Sebagai Panggung Kerukunan Lintas Etnis
Patinggi Landau, seorang tokoh adat Dayak yang memimpin prosesi, berdiri di gardu pandang kayu sambil memegang obor. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa perbatasan bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan pertemuan. "Kami hidup berdampingan dengan damai, meski ada perbedaan agama dan budaya. Ini yang harus dijaga," katanya lantang, disambut gemuruh tepuk tangan dari semua peserta. Di sepanjang rute, warga dari perkampungan pesisir dan pedalaman bergantian menampilkan tarian tradisional — dari Tari Pinggan Dayak yang dinamis hingga Tari Zapin Melayu yang gemulai. Anak-anak kecil dari etnis Tionghoa berlarian di antara barisan, mengenakan baju naga merah, sementara ibu-ibu Melayu menyajikan nasi lemak dalam daun pisang. Kondisi infrastruktur di perbatasan masih sederhana, namun semangat warga tak surut. Berikut fakta lapangan yang kami catat:
- Jalur sepanjang 3 km diaspal dengan lebar hanya 4 meter — muat untuk dua kendaraan — dikelilingi hutan lindung dan ladang karet milik warga.
- Pos lintas batas (PLB) Jagoi Babang berjarak 500 meter dari lokasi kirab, dengan lalu lintas warga Malaysia yang menyeberang untuk berbelanja setiap Sabtu.
- Warga dari Malaysia, yang tinggal di perkampungan Serian, menyaksikan kirab dari tepi pagar perbatasan — beberapa melambaikan tangan dan tertawa bersama anak-anak Indonesia.
- Kondisi gardu pandang kayu di titik kumpul sudah mulai lapuk — tiangnya berlumut dan tak ada lampu penerangan — namun tetap digunakan sebagai pusat kegiatan adat setiap bulan.
Menurut data dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Kabupaten Bengkayang memiliki 29 desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia, dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani karet dan nelayan. "Kami ingin menunjukkan bahwa persatuan di perbatasan adalah kenyataan, bukan sekadar slogan," tambah Patinggi Landau, sambil menunjuk ke arah pagar kawat yang hanya berjarak 50 meter.
Doa Bersama: Merajut Harapan di Ujung Negeri
Kirab berakhir di lapangan tanah Desa Jagoi Babang, tempat seluruh peserta berkumpul melingkar. Tanpa tenda megah, hanya di bawah langit kelabu, mereka mengadakan doa bersama lintas iman. Seorang pemuka agama membacakan doa dalam bahasa Indonesia dan Dayak, diikuti oleh suara amin yang menggema dari ratusan dada. Di sudut lapangan, terlihat bendera Merah Putih berkibar meskipun tiangnya hanya bambu sederhana. Kirab budaya ini bukan sekadar perayaan, melainkan bukti bahwa di ujung negeri, nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika masih terawat dengan tangan-tangan penuh cinta. Warga perbatasan Bengkayang telah menunjukkan bahwa persatuan lintas etnis bisa tumbuh subur bahkan di tanah yang paling rawan sekalipun. Saat obor mulai padam dan senja merambat di balik hutan, kami meninggalkan Jagoi Babang dengan satu keyakinan: nasionalisme sejati lahir dari kebersamaan yang dirawat setiap hari, di setiap sudut garis depan.