Di pelabuhan kecil Pantai Namosain, Kupang, langit senja membentang merah keemasan di atas Laut Timor. Di bawah tenda biru lapuk yang berkibar perlahan, sekelompok nelayan duduk melingkar. Wajah mereka letih, kusam oleh garam dan angin laut semalaman. Salah seorang dari mereka, Samandar, asal Kampung Alor, angkat bicara dengan suara serak. Ia menunjuk ke arah cakrawala yang samar – batas wilayah tangkap yang kerap dilanggar oleh patroli kapal asing. Ombak kecil memecah di dermaga, seolah ikut menyimak keluhan yang menggantung di udara asin.
Batas yang Samar di Laut Timor
Samandar bercerita, hampir setiap pekan mereka melihat manuver kapal-kapal asing masuk ke area tangkap tradisional. “Kami hanya nelayan kecil, pakai perahu motor tempel. Kalau dikejar, kami kalah cepat,” ujarnya. Ibu-ibu yang ikut mendengar menggeleng. Mereka mengingatkan bahwa hasil tangkapan setahun terakhir menurun drastis. Kondisi ini membuat ekonomi keluarga nelayan perbatasan semakin terhimpit. Berikut rincian kondisi yang mereka hadapi:
- Kapal asing kerap melintas masuk ke zona tangkap tradisional tanpa izin.
- Tidak ada patroli rutin dari pihak berwenang yang melindungi nelayan lokal.
- Hasil tangkapan ikan menurun hingga 50% dalam setahun terakhir.
- Nelayan semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, harga BBM melambung.
- Batas maritim tidak jelas secara visual di lapangan, hanya berdasarkan GPS yang jarang dimiliki nelayan.
Suara mereka berat namun penuh harap. Mereka bukan sekadar mengeluh, tetapi menyuarakan aspirasi yang telah lama terpendam. “Kami hanya minta perlindungan, biar bisa melaut dengan tenang. Laut ini sumber hidup kami,” tambah Samandar sambil memandang ke laut yang mulai gelap.
Harapan di Tengah Gelombang
Di tengah keterbatasan, semangat nasionalisme nelayan perbatasan justru terpancar. Mereka sadar bahwa Laut Timor adalah bagian dari NKRI yang harus dijaga. Namun tanpa dukungan nyata, semangat saja tidak cukup. Pemerintah pusat maupun daerah diharapkan segera menegakkan aturan batas zona tangkap, memperkuat patroli, dan memberikan bantuan alat navigasi bagi nelayan kecil. “Kami ingin tetap menjadi warga yang setia di ujung negeri, tapi kami butuh kehadiran negara,” kata seorang nelayan lain.
Angin laut berhembus semakin kencang, tenda biru lapuk berkibar lebih keras. Di kejauhan, lampu-lampu kota Kupang mulai menyala. Namun bagi nelayan yang masih duduk di dermaga, malam ini mungkin akan kembali panjang tanpa kepastian. Mereka adalah penjaga garis depan yang tak pernah lelah berjuang, namun kerap dilupakan.
Lensa-Teritorial mencatat, kisah nelayan perbatasan di Laut Timor bukan sekadar cerita tentang hasil tangkapan yang menurun. Ia adalah cermin nasib saudara sebangsa di sudut negeri. Aspirasi mereka layak didengar, karena di pundak mereka, harga diri bangsa dipertaruhkan di lautan luas. Ombak terus memecah, seolah berbisik: jangan biarkan mereka sendiri.