POTRET GARIS DEPAN

Pangkoops TNI Habema Perintahkan Evakuasi Udara Istri Korban OPM

Pangkoops TNI Habema Perintahkan Evakuasi Udara Istri Korban OPM
Baling-baling helikopter Bell mengiris udara dingin di landasan darurat Distrik Mbua, menebarkan debu dan daun kering ke sekeliling. Ibu Sinta Bilolo, wajahnya sembab oleh tangis dan dingin yang menusuk, dibantu masuk ke dalam kabin oleh seorang prajurit dengan sikap hormat. Di pelukannya, mungkin hanya ada bungkusan kecil berisi pakaian dan foto suaminya, Aris. Dua perempuan pendampingnya, Ibu Haryati dan Ibu Murni, mengikutinya dengan langkah gontai, mata mereka menerawang lembah yang dalam, jalur darat yang kini mereka takuti untuk dilalui. Helikopter itu mengangkasa, meninggalkan Mbua yang sunyi di bawah, menembus awan yang menyelimuti puncak-puncak pegunungan. Dari jendela, Ibu Sinta bisa melihat jalur berkelok-kelok yang mungkin terakhir dilalui suaminya—sebuah garis tipis berwarna cokelat di antara hutan hijau yang lebat. Penerbangan ini bukanlah kemewahan, tetapi sebuah keharusan kemanusiaan di tengah terputusnya akses dan masih berkecamuknya rasa tidak aman. Mesin helikopter menderu, tapi di dalam kabin, hanya terdengar isakan yang tertahan dan desahan napas. Setelah mendarat di Kenyam, mereka berpindah ke pesawat Caravan yang lebih kecil untuk tahap akhir perjalanan ke Wamena. Proses evakuasi multi-tahap ini adalah gambaran nyata dari kompleksitas logistik dan komitmen untuk hadir di saat yang paling sulit. Ketika roda pesawat terakhir menyentuh landasan di Wamena, bukan berarti perjalanan duka Ibu Sinta selesai. Namun, setidaknya, di balik seragam hijau yang membantunya turun, ada jaminan bahwa di ujung-ujung negeri ini, negara berusaha tampil tidak dengan wajah garang, tetapi dengan pelukan evakuasi bagi mereka yang paling membutuhkan pertolongan.
Evakuasi Udara Istri Korban OPM
Tokoh: Sinta Bilolo, Aris, Haryati, Murni
Organisasi: TNI, OPM
Lokasi: Distrik Mbua, Kenyam, Wamena

Artikel terkait