SUARA PERBATASAN

Pasar Senyap di Perbatasan: Kisah Warga Sebatik Menanti PLBN

Pasar Senyap di Perbatasan: Kisah Warga Sebatik Menanti PLBN
Pagi di Pasar Induk Sebatik, Nunukan, masih terasa senyap. Los-los kayu yang biasanya penuh dengan sayuran segar, ikan asin, dan kebutuhan pokok dari Malaysia maupun Indonesia, kini hanya diisi oleh segelintir pedagang yang duduk termenung. Suasana kontras dengan keramaian di seberang lautan, di Tawau, Malaysia, yang terlihat jelas dari pelabuhan. Perahu-perahu kecil yang biasa bolak-balik membawa barang kini tertambat rapi, menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Wajah Pak Hasan, pedagang bawang putih, tampak muram menatap tumpukan barang dagangannya yang mulai layu. Kisah hidup warga Sebatik adalah kisah tentang kedekatan yang rumit. Mereka bisa melihat lampu-lampu kota Tawau berkelip setiap malam, mendengar suara adzan dari masjid di seberang, bahkan memiliki keluarga di sana. Namun, untuk melewati garis batas yang tak kasat mata di laut itu, mereka harus berhadapan dengan birokrasi yang seringkali tak memahami urgensi kehidupan sehari-hari. PLB yang ada terasa seperti pintu yang setengah tertutup, belum sepenuhnya menjadi PLBN yang memudahkan dan membanggakan. Harapan mereka tertumpu pada rencana pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik yang lebih megah dan berfungsi penuh. Mereka membayangkan sebuah terminal yang tertib, tempat paspor Indonesia mereka dicap dengan hormat, lalu mereka bisa melangkah dengan kepala tegak untuk berdagang atau bersilaturahmi. Sambil menunggu, mereka tetap bertahan. Matahari terik menyinari wajah-wajah penuh ketabahan ini, para penjaga ekonomi mikro di garis terdepan yang percaya, suatu hari nanti, pasar mereka akan kembali ramai, bukan karena kelonggaran, tetapi karena hak sebagai warga negara yang diakui di perbatasannya sendiri.
Pasar senyap di perbatasan PLBN Sebatik warga Sebatik perdagangan lintas batas
Tokoh: Pak Hasan
Lokasi: Sebatik, Nunukan, Tawau, Malaysia, Indonesia, Pasar Induk Sebatik, PLBN Sebatik

Artikel terkait