INFRASTRUKTUR

Pembangunan Dermaga Perbatasan di Kepulauan Sangihe Rampung 80%

Pembangunan Dermaga Perbatasan di Kepulauan Sangihe Rampung 80%

Di Kabupaten Kepulauan Sangihe, dermaga baru di Kecamatan Tabukan Tengah telah mencapai 80% pembangunan, menjadi harapan baru bagi pulau-pulau perbatasan. Namun, jalan akses yang rusak parah masih menjadi tantangan utama yang menanti penyelesaian. Infrastruktur laut ini adalah bukti nyata bahwa pembangunan di perbatasan harus utuh—dari dermaga hingga daratan—untuk memperkuat kedaulatan dan kesejahteraan warga garis depan.

Langkah kaki menginjak tiang beton yang masih basah oleh percikan air laut. Di Kecamatan Tabukan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dermaga baru mulai menjulang di atas permukaan laut biru. Sekelompok pekerja dengan helm kuning sibuk mengecor lantai dermaga, sementara alat berat berderu memindahkan material. Dari kejauhan, terlihat kontras antara dermaga baru yang kokoh dan dermaga lama yang hanya berupa papan kayu lapuk—seperti perbedaan antara masa depan dan masa lalu. Udara asin bercampur bau semen menyambut siapa pun yang melintas. Ini bukan sekadar proyek, melainkan urat nadi logistik bagi pulau-pulau kecil di perbatasan Indonesia-Filipina.

Potret Konstruksi di Garis Depan

Kepala Dinas PU Sangihe, Bambang, menjelaskan bahwa dermaga ini dirancang mampu menampung kapal berkapasitas 500 GT. Artinya, kapal pengangkut sembako dan bahan bakar bisa merapat tanpa terkendala ombak besar. "Dulu, saat cuaca buruk, distribusi sering terhenti. Dermaga lama hanya bisa menampung kapal kecil. Sekarang, kami ingin memutus rantai keterlambatan itu," ujarnya sambil menunjuk ke arah laut. Data di lapangan menunjukkan progres pembangunan yang nyata:

  • Tiang pancang beton telah terpasang 90%
  • Pengecoran lantai dermaga mencapai 80%
  • Fasilitas bongkar muat modern akan dilengkapi pada tahap akhir

Foto udara kawasan ini memperlihatkan garis pantai yang berliku, dengan dermaga baru menjadi titik terang di tengah hamparan permukiman nelayan. Warga Pulau Marore—salah satu pulau terluar—menaruh harapan besar agar dermaga ini tuntas pada akhir tahun. Pasokan minyak tanah dan beras selama ini bergantung pada kapal kecil yang rawan tenggelam saat badai. Kini, mereka bisa bernapas lega.

Harapan dan Tantangan di Ujung Negeri

Namun, di balik kemegahan konstruksi, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Jalan akses menuju dermaga masih rusak parah. Seorang sopir truk bernama Yanto mengeluhkan lubang sedalam 30 cm yang menganga di aspal. "Setiap kali lewat, ban belakang bisa pecah. Kalau hujan, jalan ini jadi kubangan lumpur," katanya sambil mengelap keringat. Pemerintah berjanji akan mengecor jalan setelah dermaga selesai. Tapi, bagi Yanto, janji itu terdengar seperti angin lalu. Ia sudah tiga tahun mengangkut logistik di jalur ini, dan setiap musim hujan selalu sama: truk terjebak, pasokan terlambat.

Potret ini mengingatkan bahwa infrastruktur di perbatasan tak bisa dibangun secara parsial. Satu mata rantai harus kuat semua, dari dermaga hingga jalan di darat. Di balik kemajuan 80%, masih ada 20% pekerjaan yang menanti, dan yang lebih krusial, sambungan antara laut dan darat harus mulus. Warga berharap bukan hanya dermaga yang selesai, tapi juga akses yang layak agar kehidupan di perbatasan tidak lagi terisolasi.

Perbatasan Sangihe bukan sekadar garis di peta, melainkan denyut nadi anak bangsa yang berjuang di ujung negeri. Ketika dermaga ini rampung, ketika jalan mulus menghubungkan pulau-pulau, maka semangat nasionalisme akan terpatri bukan hanya di bendera, tetapi juga di setiap karung beras yang diturunkan, setiap tabung elpiji yang dibongkar. Karena di garis depan, membangun infrastruktur berarti merajut Indonesia dari pinggiran.

Pembangunan Dermaga Infrastruktur Perbatasan
Tokoh: Bambang, Yanto
Organisasi: Dinas PU Sangihe
Lokasi: Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Kecamatan Tabukan Tengah, Filipina, Pulau Marore

Artikel terkait