INFRASTRUKTUR

Pembangunan Rumah Ibadah di Pulau Marore: Toleransi dan Kebanggaan di Lini Terdepan

Pembangunan Rumah Ibadah di Pulau Marore: Toleransi dan Kebanggaan di Lini Terdepan
Di Pulau Marore, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, gemuruh suara palu dan gergaji terdengar dari pagi. Sebuah bangunan baru sedang didirikan — sebuah musala yang akan menjadi pusat ibadah dan kegiatan warga. Di sampingnya, sudah berdiri gereja tua yang kokoh. Warga dari berbagai agama bahu-membahu membawa batu dan pasir. "Kami tidak ada bedanya. Di perbatasan, semua saudara," ujar Bapak Yosua, tokoh agama setempat, sambil mengangkut semen. Latar belakang laut biru jernih dan gunung berapi yang menjulang menambah keindahan gotong royong itu. Pembangunan ini bukan sekadar fisik, tetapi simbol persatuan di salah satu pulau terluar Indonesia. Saat istirahat, mereka berkumpul di bawah pohon nyiur, berbagi kelapa muda dan cerita. Toleransi bukan hanya slogan, tapi napas kehidupan di Marore.
Pembangunan Rumah Ibadah Toleransi Beragama Pulau Terluar
Tokoh: Bapak Yosua
Lokasi: Pulau Marore, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Indonesia

Artikel terkait