SUARA PERBATASAN

Perbatasan Entikong Sepi, Pedagang Keluhkan Kehadiran Pos Pemeriksaan Baru

Perbatasan Entikong Sepi, Pedagang Keluhkan Kehadiran Pos Pemeriksaan Baru

Sejak pos pemeriksaan baru beroperasi di Entikong, Kalimantan Barat, Plaza Merdeka menjadi sepi. Pedagang seperti Siti mengeluhkan penurunan pembeli akibat antrean panjang dan prosedur berbelit. Suara perbatasan ini menjadi panggilan untuk mengevaluasi kebijakan agar ekonomi di garis depan kembali bergeliat.

Plaza Merdeka di Entikong, Kalimantan Barat, pagi ini diselimuti keheningan yang tidak biasa. Aspal basah bekas hujan semalam masih mengkilap saat sinar matahari pagi menembus kanopi biru yang mulai luntur di atas pos pemeriksaan baru. Tiga hari lalu, pos perbatasan itu resmi beroperasi, menggantikan sistem lama yang lebih longgar. Kini, deretan pedagang yang biasa memadati trotoar hanya tinggal beberapa lapak saja. Di sudut plaza, Siti (45) duduk di bangku plastik di samping tumpukan kain batik dan tenun. Wajahnya lelah, matanya sesekali menatap kosong ke arah pos yang disemen putih itu. "Sejak pos baru ini, pembeli dari Malaysia berkurang drastis. Mereka mengeluh antrean panjang dan pemeriksaan barang yang lama," katanya sambil melipat kain yang tak kunjung laku. Suara perbatasan kini hanya terdengar dari helikopter patroli yang sesekali melintas, meninggalkan bayangan cepat di atas aspal retak. Suara perbatasan itu menjadi pengingat bahwa denyut nadi ekonomi di sini sedang terhenti.

Potret Sepi di Balik Pos Pemeriksaan Baru

Di seberang plaza, deretan warung makan yang biasanya ramai hingga larut malam kini hanya diterangi lampu temaram. Seorang polisi perbatasan duduk di pos, berteduh di bawah kanopi biru yang mulai luntur. Ia hanya diam, sesekali melihat ke arah jalur lintas batas yang sepi. Kondisi infrastruktur di sekitar pos baru pun menambah kesuraman. Aspal di beberapa titik retak, trotoar basah, dan tidak ada penerangan yang memadai. Para pedagang yang masih bertahan mengeluhkan banyak hal:

  • Antrean panjang di pos pemeriksaan baru membuat warga Malaysia enggan masuk ke Indonesia.
  • Prosedur pemeriksaan barang yang berbelit dan memakan waktu.
  • Penurunan jumlah pembeli hingga 70% sejak pos baru beroperasi.
  • Lapak-lapak kosong di Plaza Merdeka yang sebelumnya menjadi titik kumpul pedagang lintas batas.

"Dulu ramai, sekarang sepi. Saya sudah tiga hari hampir tidak ada yang beli," keluh Siti. Ia mengaku hanya bisa berharap ada evaluasi dari pemerintah agar prosedur lebih sederhana. Entikong yang dulu menjadi simbol perekonomian perbatasan kini bagaikan kota mati di siang bolong.

Harapan di Balik Kanopi Biru yang Luntur

Namun, di balik kesuraman itu, semangat Siti dan pedagang lain masih menyala. Mereka berharap pos pemeriksaan baru bisa menjadi gerbang yang lebih baik, bukan penghalang. "Kami ingin perbatasan ini tetap hidup. Bukan hanya untuk kami, tapi untuk hubungan Indonesia-Malaysia yang sudah lama terjalin," ujar Siti sambil menunjuk deretan kain batik yang belum terjual. Ia bercerita bahwa sebagian besar dagangannya berasal dari pengrajin lokal di sekitar Entikong. Jika ekonomi di perbatasan mati, maka banyak keluarga akan kehilangan sumber penghidupan. Kanopi biru yang mulai luntur itu menjadi saksi bisu perjuangan mereka.

Helikopter patroli kembali melintas, meninggalkan suara bising yang sebentar menenggelamkan sunyi. Siti menghela napas panjang, lalu kembali melipat kain. Di sudut matanya, tampak setitik harapan. Mungkin besok ada perubahan, mungkin prosedur bisa dipermudah, mungkin Plaza Merdeka akan kembali ramai. Suara perbatasan bukan hanya tentang keluhan dan sepi, tetapi juga tentang ketahanan dan cinta tanah air. Inilah Entikong, ujung negeri yang berdenyut dengan semangat. Kita semua harus mendengar suara perbatasan ini—suara yang merindukan kehidupan, suara yang mengingatkan bahwa di garis depan, Indonesia harus hadir dengan kebijakan yang memuliakan warganya.

Perbatasan Entikong Pos Pemeriksaan Baru
Tokoh: Siti
Lokasi: Entikong, Kalimantan Barat, Plaza Merdeka, Indonesia, Malaysia

Artikel terkait