Pasar Jibama di Wamena, di bawah langit kelabu pagi itu, berdenyut dengan ritme yang berbeda dari biasanya. Di antara tumpukan kangkung hijau segar dan ubi jalar yang menggunung, wajah-wajah mama-mama pedagang tampak lebih sayu dari hari-hari sebelumnya. Bukan harga komoditas yang menjadi topik utama, melainkan kabar duka tentang 'Sopir Aris'—sopir travel yang biasa mengantar mereka dari distrik terpencil. Yulce (52), dengan tangannya yang masih pekat oleh tanah, membersihkan kangkung di atas terpal plastik sambil matanya berkaca-kaca. 'Dia selalu bantu turunkan barang, tidak pernah marah kalau kami bayar kurang,' kenangnya, suara nyaris berbisik. Denyut nadi Pasar Jibama tetap berdetak, namun aroma takut dan kehilangan mengambang di udara bersama uap pagi Lembah Baliem. Setiap suara kendaraan yang masuk membuat sebagian mama-mama menoleh waspada, seolah perangkap di setiap tikungan jalan. Inilah Wamena, di garis depan ketangguhan Wanita Papua.
Derap Langkah di Tengah Deru Ketidakpastian
Bagi mama-mama ini, perjalanan ke pasar bukan sekadar urusan jual beli; ini adalah perjuangan mempertahankan hidup. Akses transportasi yang menjadi tulang punggung logistik mereka kini terancam setelah insiden penembakan yang merenggut nyawa sang sopir. Mama Marta, dengan tegas namun raut wajah lelah, menatap ke arah jalan masuk pasar. 'Tidak jualan, tidak makan. Anak-anak di asrama nanti kirim uang dari mana?' ujarnya lantang, seolah menantang rasa takut yang mencoba merasuk. Mereka adalah pilar Ekonomi keluarga, yang setiap harinya diuji oleh situasi konflik bersenjata. Berjualan bukan lagi sekadar aktivitas dagang, melainkan bentuk perlawanan diam-diam terhadap ketidakpastian. Berikut adalah gambaran kondisi lapangan yang ditemukan:
- Terputusnya jalur transportasi: Sopir yang biasa mengantar dari distrik-distrik seperti Asologaima dan Welesi kini enggan melintas karena faktor keamanan, menyebabkan pasokan sayur dan hasil kebun menurun drastis.
- Kenaikan harga tak langsung: Biaya sewa kendaraan pengganti melonjak hingga dua kali lipat, memaksa mama-mama menaikkan harga jual—sebuah dilema karena daya beli warga sekitar juga terbatas.
- Ancaman psikologis: Setiap pagi, sebelum berangkat, mereka harus berpamitan dengan anak-anak dengan doa ekstra. 'Kami pergi jualan, kadang takut tidak pulang,' bisik seorang pedagang ubi di sudut pasar.
Ekonomi Rakyat di Ujung Senapan
Di tengah gejolak, denyut Ekonomi akar rumput tetap bertahan. Meja-meja dagangan tidak pernah sepi—walau jumlah pembeli menurun. Mama-mama ini sadar bahwa jika mereka berhenti, maka bukan hanya perut anak-anak yang lapar, tetapi juga semangat Ketahanan masyarakat yang akan runtuh. 'Kami harus tetap jualan, anak butuh makan,' kata Yulce sambil merapikan kangkung yang hampir layu. Di balik lapak sederhana dari triplek dan terpal, tersimpan tekad baja yang tak bisa dihancurkan oleh suara tembakan. Mereka adalah para pejuang ekonomi yang memastikan bahwa gelombang kekerasan tidak mampu menghentikan sirkulasi rupiah di Pasar Jibama.
Ketika matahari semakin tinggi di Lembah Baliem, mama-mama itu tetap bertahan di lapak masing-masing. Mereka sadar, di balik setiap ikat kangkung dan tumpukan ubi, ada masa depan anak-anak yang harus dipastikan. Ketangguhan mereka adalah cermin bahwa negeri ini tak pernah benar-benar berhenti berdenyut, bahkan di titik paling rawan sekalipun. Di sudut Pasar Jibama, semangat itu tak pernah padam—sebuah bukti bahwa dari keterbatasan, lahir kekuatan yang tak terbendung. Lensa-Teritorial hadir di sini, untuk mengabadikan perjuangan mama-mama Papua yang tak pernah menyerah pada keadaan.