INFRASTRUKTUR

Petani Manggis di Perbatasan Kepri Keluhkan Harga Jual Anjlok Akibat Jalan Rusak

Petani Manggis di Perbatasan Kepri Keluhkan Harga Jual Anjlok Akibat Jalan Rusak

Petani manggis di Desa Pasir Putih, perbatasan Kepri–Malaysia, terpaksa menjual hasil panennya dengan harga anjlok karena infrastruktur jalan sepanjang lima kilometer menuju pelabuhan rusak parah. Lubang sedalam 50 cm dan kubangan lumpur membuat biaya angkut membengkak, sementara Malaysia menawarkan harga tiga kali lipat. Warga menanti janji perbaikan jalan dari pemerintah, namun kecemasan musim hujan masih membayangi nasib panen berikutnya.

Aroma tanah basah bercampur getah manggis terasa menyengat di Desa Pasir Putih, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti pepohonan di sepanjang perbatasan Kepri–Malaysia, saat seorang petani bernama Pak Asrul berdiri di tepi ladangnya. Di depannya, jalan tanah sepanjang lima kilometer menuju pelabuhan tampak seperti medan perang—berlubang, becek, dan berlumpur. Sebuah truk pick-up bermuatan manggis nyaris oleng ketika rodanya terperosok ke dalam lubang sedalam setengah meter. Buah-buah yang jatuh bergelimpangan di lumpur, sebagian hancur tertimpa ban. Pak Asrul hanya bisa menghela napas panjang sambil menunjuk ke arah perbatasan yang berjarak beberapa kilometer.

Potret Garis Depan: Manggis Jatuh di Lumpur Perbatasan

Ladang manggis di perbatasan Kepri seharusnya menjadi sumber kebanggaan dan kesejahteraan warga. Ribuan pohon berbuah lebat siap panen, namun infrastruktur jalan yang rusak parah menghancurkan harapan. Di Desa Pasir Putih, harga manggis di tingkat petani anjlok hingga Rp 5.000 per kilogram, sementara di Malaysia harga yang ditawarkan tiga kali lipat. Namun, untuk sampai ke seberang, petani harus menanggung ongkos angkut yang membengkak akibat medan yang sulit. Banyak truk pick-up yang rusak karena terus-menerus melintasi lubang dan kubangan lumpur. Akibatnya, manggis yang terluka selama pengangkutan dijual murah atau dibuang begitu saja.

  • Jalan tanah sepanjang 5 kilometer dari desa ke pelabuhan dipenuhi lubang sedalam 30 hingga 50 cm.
  • Saat hujan, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang membuat truk pick-up sering mogok.
  • Populasi mobil pick-up di desa mulai menurun karena banyak yang rusak akibat medan berat.
  • Manggis yang jatuh ke lumpur atau terluka selama pengangkutan dijual dengan harga sangat murah atau dibuang begitu saja.

Harapan di Tengah Jalan Rusak: Janji Perbaikan dan Kecemasan Musim Hujan

Pemerintah Kabupaten Karimun berjanji akan memperbaiki jalan darurat dalam dua pekan ke depan. Namun, petani masih diliputi kecemasan. Musim hujan puncak segera tiba, dan jika perbaikan tak kunjung rampung, panen manggis berikutnya akan bernasib sama. Pak Asrul mengungkapkan, "Kami di sini berjuang bukan hanya melawan alam, tapi juga keterbatasan. Jalan yang rusak adalah musuh paling nyata bagi kami." Ironisnya, di seberang perbatasan, Malaysia menawarkan harga yang jauh lebih tinggi—sebuah pukulan bagi warga yang tinggal di ujung negeri. Hingga kini, tidak ada kepastian kapan aspal akan menyentuh tanah Pasir Putih.

Di balik hamparan pohon manggis yang hijau, ada rasa getir yang menggerogoti jiwa para petani. Mereka adalah garda terdepan yang setiap hari berjuang menghadapi keterbatasan—bukan hanya infrastruktur, tapi juga perhatian. Saat manggis-manggis itu jatuh ke lumpur, bukan hanya buah yang hancur, tapi juga mimpi dan harapan warga perbatasan. Sudah saatnya kita, sebagai bangsa, tidak melupakan saudara kita di ujung negeri. Mereka butuh jalan yang layak, bukan hanya untuk mengangkut manggis, tetapi juga untuk membangun masa depan di perbatasan.

harga jual manggis anjlok jalan rusak keluhan petani
Tokoh: Asrul
Organisasi: Pemerintah Kabupaten Karimun
Lokasi: Desa Pasir Putih, Kepulauan Riau, Malaysia, Kabupaten Karimun

Artikel terkait