Di ketinggian 800 meter di Pegunungan Bintang, Kampung Yetfa berdiri di lereng curam yang diselimuti kabut dingin. Di sela-sela tebing yang menghijau, lahan petani sayur terpapar angin pegunungan yang berhembus kencang. Setiap Jumat, jejak kaki para petani Yetfa membelah jalan setapak yang licin, membawa puluhan kilogram kubis, wortel, dan sayuran lain menuju Pasar Distrik Bime. Namun, perjalanan mereka bukan sekadar penjualan biasa—ini adalah pertarungan melawan ketidakpastian dan keterbatasan infrastruktur di garis depan negeri.
Jumat di Pasar Bime: Perjalanan Panjang dari Lereng yang Licin
Kabut masih menggantung saat para petani mulai menuruni lereng. Ondo (34), seorang petani muda, menggendong keranjang berisi 20-30 kilogram hasil panen yang menekan pundaknya. Jalan setapak yang hanya selebar satu orang berlumpur dan licin, di beberapa titik harus menyeberangi sungai kecil dengan bantuan kayu gelondongan. “Kadang kami sampai pasar, tidak ada pembeli. Sayur busuk percuma,” ujarnya dengan napas memburu. Jarak yang ditempuh sekitar tiga jam, namun jika hujan turun, waktu bisa berlipat dan risiko terpeleset menjadi ancaman nyata.
- Jalur setapak tidak beraspal, licin saat hujan, dan rawan longsor.
- Petani mengandalkan tenaga fisik, tanpa alat transportasi atau kendaraan roda dua.
- Jarak tempuh ke Pasar Bime memakan waktu hingga 3 jam dari Kampung Yetfa.
- Sayur-mayur seperti kubis dan wortel komoditas utama yang dipikul langsung.
Di pasar, mereka berjongkok di atas terpal basah, menunggu pembeli datang. Namun hasil bumi yang dibawa seringkali tak laku atau dihargai murah. “Harga di Yetfa jauh lebih rendah dibanding Oksibil, tapi kami tak mampu membawa hasil sebanyak itu ke sana,” tambah seorang petani lain yang enggan disebut namanya. Kondisi itu membuat sebagian warga memilih menjual ke pasar terdekat dengan harga seadanya, hanya agar sayur tidak membusuk.
Harga Tak Menentu, Godaan di Seberang Perbatasan
Di seberang pagar batas, Papua Nugini membentang dengan harga sayur yang jauh lebih menggiurkan. Selisih harga bisa dua kali lipat di pasar luar negeri tersebut. Namun, keinginan untuk mencari cuan itu dihadang oleh ketakutan akan status ilegal. “Takut ditangkap, takut dianggap penyelundup,” bisik Ondo sambil menatap jauh ke arah perbatasan. Akses jalan utama menuju Oksibil yang rusak parah membuat distribusi hasil bumi Yetfa terhambat, sehingga harga di pasar lokal selalu timpang.
- Akses jalan ke Oksibil rusak total, lubang dan tanah longsor sering memutus koneksi.
- Harga sayur di Papua Nugini lebih menguntungkan, tetapi risiko hukum mengadang.
- Warga hidup dalam ketidakpastian ekonomi—hasil panen tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.
- Infrastruktur dasar seperti pasar modern dan gudang pendingin tidak tersedia di Distrik Bime.
Kisah Ondo hanyalah satu dari ratusan kepala keluarga di Yetfa yang berjuang di ujung negeri. Mereka tetap menanam, tetap memikul harapan di tengah perbatasan yang kerap terlupakan. Namun, tanpa dukungan nyata—baik dari pemerintah pusat maupun daerah—nasib petani Yetfa akan terus terombang-ambing oleh harga yang tak menentu dan medan yang keras. Di lereng pegunungan yang dingin, mereka menanti kehadiran negara: jalan yang layak, pasar yang adil, dan kepastian hidup. Indonesia harus hadir, bukan sekadar di peta, melainkan dalam denyut nadi warga perbatasan yang setiap hari mempertahankan tanah air dengan keringat dan sayur-mayur.