Matahari mulai naik di atas Bukit Skouw, menerangi antrean panjang yang sudah mengular sejak pukul enam pagi. Di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Kota Jayapura, gerbang perbatasan dengan Papua Nugini ini dipadati warga yang hendak berdagang, wisata, atau menjenguk keluarga. Sejak izin perjalanan diperlonggar dua pekan lalu, volume penumpang melonjak hingga 40 persen. Suasana riuh rendah bercampur dengan terik matahari yang menyengat. Seorang ibu muda dengan bayi di punggung dan keranjang sayur di tangan, berdiri di bawah terik tanpa naungan. “Sudah tiga jam antre, belum masuk. Di sini panas, anak saya rewel,” keluhnya dengan suara letih. Debu beterbangan dari bukit sekitar, menambah sesak napas para pengantre yang mayoritas adalah pedagang kecil.
Potret Keseharian di Gerbang Perbatasan
Di area parkir, beberapa pedagang kaki lima menjual kopi dan pisang goreng kepada mereka yang menunggu. Tiga loket pemeriksaan hanya dua yang beroperasi karena komputer sering error. Akibatnya, antrean semakin panjang. Seorang pria duduk di atas koper, menatap lesu ke arah papan pengumuman yang tulisannya sudah pudar dimakan cuaca. Kondisi ini menggambarkan realitas di PLBN Skouw: bukan hanya soal bangunan megah, tapi sistem dan fasilitas yang belum sepenuhnya mendukung kelancaran lalu lintas orang dan barang.
- Volume penumpang naik 40% setelah pelonggaran izin perjalanan dua pekan terakhir.
- Antrean mencapai tiga jam lebih pada jam sibuk pagi hari.
- Loket pemeriksaan hanya dua yang berfungsi karena kerusakan komputer.
- Warga mengeluhkan panasnya ruang tunggu dan minimnya tempat berteduh.
Fasilitas Terbatas, Petugas Berjuang
Di dalam ruang pemeriksaan, petugas imigrasi dan kepolisian tampak kewalahan. Hawa panas menyengat karena pendingin ruangan (AC) rusak. Bripka Dodi, salah satu petugas, menyeka keringat di dahinya. “Kami kerja lembur, tapi fasilitas belum mendukung. Listrik sering mati,” ujarnya sambil tetap melayani antrean. Foto jurnalistik yang beredar menunjukkan ruangan sempit dengan tumpukan berkas dan wajah petugas yang lelah. Kondisi ini menjadi potret nyata perjuangan petugas di garis depan negara. Mereka berusaha maksimal meski dengan keterbatasan infrastruktur dan teknologi. Di luar, debu beterbangan menerpa pedagang yang menawarkan kopi dan gorengan. Angin dari perbukitan Skouw membawa rasa panas kering yang melekat di kulit.
PLBN Skouw adalah gerbang utama perbatasan Papua yang menghubungkan Indonesia dan Papua Nugini. Namun, kondisi yang terlihat hari ini menunjukkan bahwa kemegahan fisik bangunan belum seimbang dengan kesiapan operasional. Antrean panjang, AC rusak, komputer error, dan listrik padam adalah masalah klasik yang terus berulang. Petugas kewalahan, warga resah, dan semangat nasionalisme diuji oleh realitas sehari-hari. Di sini, di ujung timur Indonesia, setiap orang yang melintas tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga harapan akan pelayanan yang lebih baik.
Melihat pemandangan ini, kita diingatkan bahwa perbatasan bukan sekadar garis batas negara, melainkan wajah Indonesia di mata tetangga. Saat bayi menangis di pangkuan ibunya yang antre berjam-jam, atau petugas yang terus bekerja meski AC rusak, semangat kebangsaan mereka tidak boleh pudar. Sudah saatnya perhatian lebih diberikan pada PLBN Skouw: bukan hanya untuk kelancaran lalu lintas, tapi untuk menghargai perjuangan warga dan petugas yang setiap hari menjaga martabat Indonesia di garis depan. Dari Skouw, kita belajar bahwa pembangunan sejati adalah ketika setiap orang yang melintas merasa nyaman dan bangga menjadi bagian dari negeri ini.