Matahari pagi menyinari atap gedung dua lantai Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw di Kota Jayapura, Papua. Dari atas bukit, kamera menangkap pemandangan kontras: bangunan modern dengan fasad kaca dan area komersial yang rapi berdiri megah, namun di depannya terbentang jalan aspal yang berlubang dan bergelombang. Di ruas Nafri-Skouw, genangan air hitam setinggi betis memaksa setiap kendaraan merayap pelan. Bau tanah basah bercampur asap knalpot menyapa hidung, sementara di kejauhan, antrean mobil dan sepeda motor mengular menunggu pemeriksaan bea cukai. Inilah potret garis depan Indonesia di utara Papua — wajah baru perbatasan yang masih terhalang oleh akses jalan yang rusak parah.
Kontras di Ujung Negeri: Megahnya PLBN, Rusaknya Jalan Akses
PLBN Skouw yang baru diresmikan menjadi kebanggaan warga perbatasan. Gedung modern dengan fasilitas bea cukai dan area komersial menjanjikan pelayanan lebih baik. Namun, untuk sampai ke sana, warga harus melewati jalan yang memprihatinkan. Paulus (42), seorang sopir angkutan yang setiap hari melintasi rute Jayapura-Skouw, menceritakan pengalamannya dengan nada kesal.
- Jarak hanya 50 km dari pusat Kota Jayapura ke PLBN Skouw, namun perjalanan memakan waktu hingga 3 jam akibat jalan berlubang dan genangan air.
- Seminggu lalu, ban kendaraan Paulus pecah karena menghantam lubang besar. Ia harus menunggu bantuan dari kota selama berjam-jam di tepi jalan.
- Kondisi aspal di beberapa titik terkupas habis, menyisakan tanah becek yang licin saat hujan.
- Warga yang hendak melintas ke Papua New Guinea seringkali terpaksa berhenti untuk menyebrangi genangan dengan berjalan kaki, sementara kendaraan berjuang melewati kubangan.
Ironi di Garis Depan: Aspal Mulus di Seberang, Lubang di Halaman Sendiri
Foto-foto yang diambil pukul 10 pagi memperlihatkan pemandangan ironis: di sisi perbatasan Papua New Guinea, jalan aspal hitam mulus terbentang rapi tanpa cacat. Sebaliknya, di wilayah Indonesia, kendaraan harus berhenti dan antre di tengah genangan. Seorang petugas bea cukai yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa PLBN sudah siap secara fisik, namun infrastruktur pendukung seperti jalan akses belum memadai. "Kami sering mendengar keluhan dari warga yang ingin berdagang atau berkunjung ke PNG. Mereka harus merogoh kocek lebih untuk perbaikan kendaraan," ujarnya. Warga berharap tahun depan perbaikan jalan masuk PLBN Skouw masuk prioritas pemerintah pusat dan daerah.
Di balik kemegahan gedung PLBN, tersimpan narasi tentang perjuangan warga garis depan. Mereka rela menempuh jalan rusak demi menjemput masa depan di ujung negeri. Aspal yang terkelupas bukan sekadar lubang di jalan, melainkan cermin dari kesenjangan antara pembangunan fisik dan konektivitas. Namun, semangat nasionalisme tetap membara di dada setiap warga Skouw. Mereka percaya bahwa perbaikan infrastruktur jalan bukan hanya soal kenyamanan, melainkan juga martabat Indonesia di mata tetangga. Setiap lubang yang tertambal akan menjadi jahitan yang memperkuat tenun kebangsaan di garis depan perbatasan.