Matahari pagi di Sota, Kabupaten Merauke, langsung membakar kulit ketika gerbang Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sota dibuka pukul 06.00 WIT. Dari seberang perbatasan, sekelompok wanita Papua Nugini berjalan kaki sambil menjinjing tas anyaman noken—tas tradisional khas Papua yang terbuat dari serat kayu. Mereka datang bukan untuk urusan imigrasi, melainkan menyeberang ke pasar tradisional yang berdiri puluhan meter dari patok perbatasan. Udara pagi yang lembab bercampur aroma tanah basah dan asap dari tenda-tenda pedagang menciptakan atmosfer yang khas: riuh rendah suara tawar-menawar dan tawa anak-anak yang berlarian di antara lapak-lapak darurat. Inilah gambaran riuh rendah kehidupan ekonomi di garis depan Indonesia.
Pasar Tradisional yang Hidupkan Dua Bangsa
Di pasar beralaskan tanah itu, tumpukan sayur kangkung, pisang, dan ubi jalar dari kebun warga Sota ditukar dengan pakaian bekas serta alat dapur dari pedagang Papua Nugini. Suasana ramai dengan bahasa campuran antara bahasa lokal, seperti Bahasa Marind dan Bian, serta Melayu Papua. Seorang pedagang bernama mama Yosephina, yang telah berdagang di sini selama 15 tahun, tampak cekatan menimbang cabe rawit sambil bercakap-cakap dengan pelanggan dari Papua Nugini. "Setiap hari Kamis dan Minggu, mereka datang. Ini sudah seperti keluarga," katanya sambil mengelap keringat yang membasahi dahinya. Aktivitas ekonomi ini bukan sekadar jual beli, melainkan perekat sosial yang mempererat hubungan antarwarga di kedua sisi perbatasan. Namun, di balik semangat itu, kondisi pasar masih sangat sederhana: tenda terpal yang bocor saat hujan, meja kayu lapuk, dan drainase yang buruk membuat genangan air menggenang di beberapa titik.
Infrastruktur dan Harapan Warga
Kehadiran PLBN Sota yang berdiri megah tiga tahun lalu telah mengubah cara warga bertransaksi. Dulu, warga menyeberang lewat jalan setapak di hutan yang berbahaya dan tidak terawasi. Kini, mereka melewati gerbang resmi dengan pemeriksaan yang tertib, memberikan rasa aman dan legalitas dalam aktivitas lintas batas. Meski begitu, banyak warga berharap pasar ini segera direnovasi agar lebih nyaman dan bersih. Berikut suara warga dan kondisi lapangan yang terlihat:
- Mama Yosephina mengeluhkan atap pasar: "Saya ingin pasar ini punya atap yang kuat, biar tidak bocor kalau hujan. Kami juga perlu tempat sampah yang banyak, karena sampah jadi menumpuk."
- Kondisi sanitasi: Di sudut pasar, terlihat tumpukan sampah plastik dan dedaunan yang belum terangkut selama beberapa hari. Tidak ada toilet umum, sehingga warga sering buang air di semak-semak di belakang lapak.
- Akses jalan: Jalan tanah menuju pasar berdebu di musim kemarau dan berlumpur saat hujan, menyulitkan pedagang yang mengangkut barang dengan gerobak dorong.
- Peran PLBN: Petugas PLBN Sota melakukan patroli rutin di sekitar pasar untuk memastikan keamanan, namun keterbatasan personel membuat pengawasan terhadap pedagang ilegal masih longgar.
- Suara optimisme: Seorang pengunjung dari Papua Nugini, Agnes, 34 tahun, mengatakan, "Tempat ini penting bagi kami. Kami bisa dapat kebutuhan murah di sini. Semoga pemerintah Indonesia terus perbaiki."
Di tengah tawa dan tawar-menawar, terlihat jelas bagaimana perbatasan bukan lagi tembok pemisah, melainkan ruang ekonomi yang menghidupkan dua bangsa. PLBN Sota dan pasar tradisionalnya adalah saksi bisu bagaimana perekonomian lokal berdenyut, membawa harapan baru bagi warga Merauke dan Papua Nugini. Namun, di balik keramaian ini, masih ada jeritan sunyi meminta perhatian—akan kebutuhan infrastruktur dasar, kebersihan, dan akses yang layak. Saat mentari meninggi dan bayangan patok perbatasan mulai memendek, kita diingatkan bahwa menjaga kedaulatan bukan hanya soal bendera dan senjata, tapi juga tentang menghidupi mereka yang setia menjaga Suara Perbatasan. Warga Sota, dengan senyum di tengah debu dan peluh, adalah bukti bahwa nasionalisme tak pernah diam—ia berdenyut di setiap transaksi, di setiap tawar-menawar, dan di setiap langkah yang menyeberangi batas negara.