Berada di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), PLBN Terpadu Entikong menyapa setiap pengunjung dengan gapura megah bercat merah putih yang menjulang tinggi. Bukan sekadar pos lintas batas, bangunan ini kini menjadi pusat layanan terpadu satu atap yang memadukan fungsi imigrasi, bea cukai, karantina, hingga pusat informasi wisata dan perpustakaan mini. Lantai keramik mengilap dan pendingin ruangan yang sejuk menciptakan suasana nyaman bagi para pelintas batas—mayoritas warga perbatasan dan pelancong dari Malaysia—yang silih berganti mengantre di loket elektronik.
Gapura Megah di Ujung Negeri
Di dalam gedung, sejumlah fasilitas modern tersedia untuk melayani kebutuhan pelintas batas:
- Loket elektronik untuk layanan imigrasi yang mempercepat proses pemeriksaan paspor dan dokumen perjalanan, serta mencatat data kedatangan secara digital.
- Ruang bea cukai dan karantina yang tertata rapi dengan sistem pemindaian otomatis untuk memastikan kelancaran arus barang dan orang.
- Pusat informasi wisata dilengkapi foto-foto ikon Kalimantan dan etalase kerajinan tangan khas Dayak yang dipajang rapi, memperkenalkan potensi budaya daerah.
- Perpustakaan mini yang menyediakan koleksi buku tentang sejarah, budaya, dan potensi daerah perbatasan.
Semua fasilitas ini menunjukkan transformasi perbatasan dari pos keamanan menjadi pusat kegiatan yang melayani kebutuhan warga dua negara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada para pelintas.
Pusat Layanan yang Menggerakkan Ekonomi dan Budaya
Seorang pemuda asal Entikong, Antonius, bertugas sebagai pemandu wisata di PLBN ini. Dengan seragam biru khas, ia dengan ramah menjelaskan setiap sudut gedung kepada para pengunjung. "Saya bangga bisa memperkenalkan budaya Dayak dan keindahan Kalimantan kepada pelintas dari Malaysia. PLBN ini bukan hanya tempat pemeriksaan, tetapi juga jendela budaya dan ekonomi bagi masyarakat sekitar," ujarnya sambil menunjuk etalase kerajinan. Sementara itu, pejabat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang meninjau lokasi menegaskan bahwa konsep pusat layanan terpadu seperti ini akan direplikasi di PLBN lain di Tanah Air. Menurutnya, langkah ini merupakan wujud nyata mewujudkan perbatasan yang berdaulat, maju, dan sejahtera, sejalan dengan visi pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan.
Di ujung negeri ini, PLBN Terpadu Entikong menjadi bukti bahwa perbatasan bukanlah pemisah, melainkan jembatan persaudaraan dan kebanggaan. Setiap pelintas yang melewati gapura merah putih ini seolah diajak merasakan denyut nadi Indonesia—semangat gotong royong dan kecintaan pada tanah air. Bagi warga perbatasan Kalbar, kehadiran pusat layanan ini bukan sekadar kemudahan administrasi, tetapi juga penegasan bahwa negara hadir melindungi dan mensejahterakan anak negeri di garis depan. Mari kita terus dukung pembangunan perbatasan agar semakin berdaulat dan bermartabat.