Siang itu, matahari membakar pelataran Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motamasin di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Udara panas bercampur debu dari padang sabana menyelimuti area yang seharusnya menjadi gerbang kebanggaan Indonesia di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan, tidak ada antrean pelintas, dan kursi-kursi di ruang tunggu imigrasi kosong melompong. Hanya sesekali terlihat warga lokal berjalan santai menyeberang dengan paspor lintas batas di tangan, meninggalkan jejak sepi yang kontras dengan bayangan pos perbatasan yang sibuk. Motamasin, yang dikenal sebagai pos paling sunyi di sepanjang garis darat kedua negara, kini menjadi saksi bisu lesunya ekonomi warga di ujung negeri.
Gerbang Sepi di Ujung Negeri, Pedagang Menahan Laju Ekonomi
Di pasar tradisional yang hanya berjarak seratus meter dari pos lintas batas, para pedagang—kebanyakan perempuan paruh baya—duduk di balik tumpukan kain tenun ikat khas Belu. Marta, salah seorang pedagang, mengeluh omzetnya ambruk hingga 60 persen sejak pandemi mereda. “Sepi, tidak seperti dulu. Dulu banyak wisman beli selendang, sekarang cuma orang sini lalu-lalang,” katanya sambil merapikan dagangan yang mulai berdebu.
Kepala PLBN Motamasin menjelaskan bahwa selama pekan ini, pelintas justru didominasi warga lokal yang pulang dari Timor Leste memakai paspor lintas batas, bukan wisatawan asing. Kondisi ini menggambarkan pukulan telak bagi perekonomian Belu yang selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan mancanegara.
Harapan di Balik Debu: Perbatasan Ini Pintu Rezeki, Bukan Gerbang Sunyi
Warga dari lembaga adat setempat tak tinggal diam. Mereka beramai-ramai mendesak pemerintah agar PLBN Motamasin segera diperluas fasilitasnya, termasuk pembangunan pasar, area istirahat, dan spot foto yang layak. “Kalau ada pasar, ekonomi hidup. Perbatasan ini harusnya pintu rezeki, bukan gerbang sunyi,” ujar Jhon, salah satu tetua adat, dengan suara lirih namun tegas.
Berikut gambaran nyata kondisi infrastruktur dan ekonomi di lapangan:
- Penurunan jumlah wisman hingga 70% dibandingkan tahun 2019, membuat kios oleh-oleh dan makanan hanya bertahan dengan modal pas-pasan.
- Jalan utama menuju PLBN Motamasin masih sempit dan minim penerangan, menyulitkan kendaraan wisata untuk masuk.
- Lahan parkir terbatas, hanya mampu menampung lima mobil sekaligus, jauh dari standar pos perbatasan modern.
- Fasilitas pendukung seperti area istirahat dan spot foto belum tersedia, mengurangi daya tarik bagi wisatawan.
Di seberang pagar, hamparan sawah kering dan perbukitan menjadi latar sunyi yang kontras dengan semangat warga yang tak mau menyerah. Mereka tetap berjualan, tetap menenun, dan tetap menjaga pos perbatasan sebagai simbol kedaulatan. Namun, pembangunan fisik PLBN yang megah belum berjalan seiring dengan perputaran ekonomi lokal. Diperlukan kebijakan yang memadukan infrastruktur dengan denyut nadi rakyat Belu, agar perbatasan Indonesia-Timor Leste ini tidak hanya menjadi ikon fisik, tetapi juga penggerak ekonomi dan kebanggaan nasional di ujung negeri. Ketika matahari mulai condong ke barat, bayangan panjang menyusuri pelataran PLBN Motamasin. Debu-debu beterbangan ditiup angin, seolah membawa pesan dari warga Belu yang menanti kehadiran pemerintah. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya ingin perbatasan ini hidup, menjadi pintu rezeki yang menghubungkan dua negara. Di balik kesunyian itu, ada denyut harapan yang terus berdetak. Semoga langit perbatasan Indonesia-Timor Leste ini segera diramaikan oleh aktivitas yang membawa kesejahteraan, karena di ujung negeri, setiap pelintas adalah bukti kedaulatan, dan setiap pedagang adalah pahlawan ekonomi yang layak disatukan dalam perhatian kita.