Pintu masuk Pos Lintas Batas (PLB) Aruk di Kecamatan Sajingan Besar, Sambas, Kalimantan Barat, kini hanya menjadi saksi bisu keramaian yang sirna. Mentari mulai meninggi, namun bukan hiruk-pikuk kendaraan dari Malaysia yang menyambut, melainkan lengang yang mencekam. Di sepanjang jalur masuk, debu beterbangan perlahan, dan penerbangan dari Medan Kualanamu ke Entikong yang dihentikan maskapai Wings Air sejak Juli lalu meninggalkan jejak sepi panjang di garis depan negeri.
Petugas imigrasi di PLB Aruk hanya melayani dua hingga tiga orang per jam—sebuah penurunan drastis dari hari-hari sebelumnya ketika antrean kendaraan dari Malaysia biasa terjadi pada jam-jam sibuk. Di emperan kios dekat pos, seorang pedagang asal Temajuk duduk termenung, menjemur sepatu yang tak laku terjual. "Dulu banyak turis dari Pontianak ke sini, sekarang sepi," katanya lirih, matanya menatap jalanan kosong. Omzetnya anjlok hingga 70 persen, dan ia hanya bisa berharap ada perubahan.
Infrastruktur Runtuh, Ekonomi Tersendat
Jalan menuju PLB Aruk adalah potret getir kondisi perbatasan. Aspal berlubang di mana-mana, genangan air menggenangi badan jalan, dan truk logistik dari Malaysia yang dulu setiap pagi melintas kini hanya sesekali terdengar suaranya. Kerusakan infrastruktur ini memperparah isolasi yang sudah dirasakan warga.
- Akses transportasi rusak: Kondisi aspal yang berlubang dan genangan air di sepanjang jalur utama membuat perjalanan ke pos batas menjadi sulit dan lambat.
- Aktivitas logistik menurun: Truk pengangkut barang dari Malaysia, yang biasanya menjadi denyut nadi ekonomi perbatasan, kini hanya sesekali melintas.
- Ketergantungan pada konektivitas udara: Kepala PLB Aruk menegaskan bahwa aktivitas ekonomi sangat bergantung pada moda transportasi, termasuk rute penerbangan yang kini terputus.
Di dalam ruang tunggu pos, papan informasi yang memajang jadwal penerbangan kini kosong melompong. Layar monitor menempel debu, dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gemericik air sungai di belakang pos serta deru sepeda motor warga yang melintas untuk mengambil air bersih di sumur sebelah. Warga perbatasan harus berjuang sendiri.
Suara Warga di Ujung Negeri
Di tengah kesunyian itu, semangat warga tetap hidup. Seorang kepala pos dengan tegar menyatakan bahwa pihaknya tetap siaga, meski aktivitas perbatasan merosot tajam. "Kami di sini, melayani siapa pun yang datang," ujarnya. Namun, ia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa kelangsungan hidup di garis depan sangat terikat pada konektivitas transportasi dan infrastruktur yang memadai.
Pemandangan sehari-hari di sekitar PLB Aruk kini adalah warga yang berjalan kaki, sepeda motor yang mengangkut jeriken air bersih, dan anak-anak yang bermain di pinggir jalan yang rusak. Mereka tetap bertahan, dengan harapan bahwa suatu hari nanti, riuh kendaraan dari Malaysia dan turis dari Pontianak akan kembali mengisi celah-celah sunyi di PLB Aruk.
Dari sini, di ujung negeri, kami melihat bahwa setiap rute penerbangan dan setiap lubang di jalan adalah cerminan perhatian negara terhadap warganya. Ketika PLB Aruk sepi dan Entikong tak lagi terhubung lewat udara, bukan hanya ekonomi yang tersendat, melainkan juga denyut nadi kebangsaan. Sudah saatnya kita semua, dari pusat hingga ke pelosok, bergerak untuk merajut kembali konektivitas dan menebalkan semangat persatuan di garis depan Indonesia.