Mentari pagi masih malu-malu menyembul di ufuk timur ketika deru mesin tempel memecah kesunyian di dermaga kecil sisi utara Pulau Sebatik. Di atas perahu karet CMC (Combat Rubber Raiding Craft) yang terikat erat, sejumlah prajurit Korps Marinir berseragam loreng sibuk mempersiapkan perlengkapan patroli. Ombak kecil berkilau ditampar sinar matahari, menciptakan riak-riak yang memantul dari lambung karet. Udara asin terasa pekat, bercampur semangat para Baret Ungu yang akan memulai patroli rutin di batas laut antara Indonesia dan Malaysia. Perairan Sebatik, yang menjadi salah satu titik terluar Kalimantan, menyimpan banyak tantangan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menjaga Laut dari Sampah dan Pelanggaran di Perbatasan
Patroli di perairan Sebatik bukan sekadar mengawasi pergerakan kapal asing. Di atas perahu karet, di samping senjata laras panjang yang terpasang kokoh, tampak tumpukan karung berisi sampah plastik yang dikumpulkan dari sapuan arus. Letda Arif, komandan pos, menegaskan bahwa tugas mereka tidak hanya mencegah pelanggaran di laut, tetapi juga merawat lingkungan. "Tidak hanya menjaga dari pelanggaran, kami juga bertugas merawat lingkungan, karena ini juga wajah Indonesia," ujarnya sambil menyingsingkan lengan baju lorengnya. Patroli menyusuri gugusan pulau-pulau kecil dan lekukan garis pantai yang masih hijau. Beberapa titik lokasinya kerap menjadi tempat transaksi antara nelayan lintas batas. Tidak jauh dari kapal, tampak sejumlah nelayan lokal dengan alat tangkap trawl menemani prajurit membersihkan sampah yang terbawa arus. Pemandangan ini menjadi bukti nyata bahwa menjaga perbatasan membutuhkan kerja sama semua pihak.
- Perairan Sebatik merupakan salah satu titik rawan penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing.
- Sampah plastik dari berbagai daerah terbawa arus laut dan mencemari ekosistem perairan di garis depan.
- Patroli gabungan antara aparat dan nelayan warga dilakukan untuk menjaga lingkungan sekaligus keamanan wilayah.
Baret Ungu di Titik Terluar Kalimantan: Hidup Sederhana, Semangat Menjaga NKRI
Hidup di pos terpencil bukan hal yang mudah. Fasilitas di pos Marinir ini sangat jauh dari kata mewah. Dapur masih sederhana, air tawar harus didatangkan dari daratan utama, dan pasokan listrik kerap tidak menentu. Namun semangat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak pernah goyah di dada para prajurit. Mereka bahkan kerap menjadi penolong pertama bagi nelayan yang kapalnya mengalami gangguan di tengah laut. Seorang nelayan lokal yang dijumpai di sekitar perairan mengungkapkan bahwa kehadiran Marinir justru membuat warga merasa aman dari praktik penangkapan ikan ilegal oleh kapal-kapal asing. Sorot matahari semakin tinggi saat perahu karet merapat ke salah satu titik pantai. Anak-anak yang sedang bermain pasir berlarian mendekat. Letda Arif dan anak buahnya tersenyum, lalu mengajak anak-anak itu untuk tidak membuang sampah sembarangan, karena laut adalah sumber kehidupan mereka. Di ujung negeri ini, di balik keterbatasan, Baret Ungu berdiri tegak, menjaga batas laut Indonesia dengan sepenuh jiwa.
Patroli di perairan Sebatik adalah bukti nyata bahwa menjaga kedaulatan tidak selalu tentang senjata, tetapi juga tentang merawat lingkungan dan hadir bagi warga di garis depan. Ketika matahari semakin tinggi, perahu karet itu kembali melaju meninggalkan jejak buih putih di lautan. Di kejauhan, garis pantai Kalimantan masih membentang hijau, menyimpan harapan dan perjuangan para prajurit yang setiap harinya mengarungi perairan ini. Hanya dengan kepedulian kita semua, perbatasan Indonesia akan tetap menjadi rumah yang aman dan lestari bagi generasi mendatang. Semangat menjaga NKRI tidak pernah padam, sekalipun di tempat yang paling terpencil sekalipun.