POTRET GARIS DEPAN

Pos Terdepan di Perbatasan Desa: 250 Personel Jaga Titik Api di Seram Bagian Barat

Pos Terdepan di Perbatasan Desa: 250 Personel Jaga Titik Api di Seram Bagian Barat

Sebanyak 250 personel gabungan TNI-Polri di bawah Kodam Pattimura dikerahkan ke perbatasan Desa Lisabata dan Patahuwe di Seram Bagian Barat setelah bentrokan antarwarga yang dipicu kebakaran lahan. Pangdam, Kapolda, dan Danrem turun langsung memantau pengamanan, membangun pos-pos penjagaan, serta merangkul tokoh adat dan agama untuk meredakan dendam dan memulihkan kepercayaan. Pasukan akan bertahan hingga situasi benar-benar tenteram, menjaga agar api konflik tidak kembali berkobar di ujung negeri.

Jalan tanah berdebu yang memisahkan Desa Lisabata dan Desa Patahuwe di Seram Bagian Barat kini berubah menjadi garis demarkasi hidup. Sebanyak 250 personel gabungan TNI-Polri dari Kodam Pattimura berdiri tegak di titik-titik strategis, membentengi dua komunitas yang baru saja dilanda kekerasan. Bau anyir asap masih menyengat dari sisa-sisa bangunan yang hangus terbakar di Desa Patahuwe, sementara plester luka masih membalut tubuh beberapa warga akibat hantaman peluru angin. Pangdam Pattimura, Mayjen Dody Triwinarto, bersama Kapolda Maluku dan Danrem, turun langsung memantau pos-pos pengamanan yang didirikan mendadak. Suara mereka tegas meminta masyarakat menahan diri, jauhkan senjata tajam, dan jangan terprovokasi hoaks. Di balik seragam loreng dan rompi antisep, ada napas panjang penjaga perbatasan yang siap siaga 24 jam.

Garis Demarkasi Hidup di Perbatasan Dua Desa

Pos-pos pengamanan itu bukan sekadar tenda dan garis polisi. Di setiap sudut, personel dari Yonif 865 dan Brimob berjaga dengan senjata laras panjang, namun mata mereka lebih sering mengarah ke kerumunan warga yang mulai berani keluar rumah. Di bawah terik matahari Seram, Pangdam Dody berdialog dengan tokoh adat dan agama kedua desa. “Kita semua saudara. Jangan biarkan api kebencian menghanguskan perdamaian yang sudah puluhan tahun kita jaga,” ujarnya lantang di depan puluhan warga yang berkerumun. Menurut laporan di lapangan, titik api konflik dipicu oleh kesalahpahaman soal kebakaran lahan yang merembet ke isu sara. Kodam Pattimura dan jajaran Polda Maluku bergerak cepat mengerahkan personel untuk memisahkan massa yang bentrok.

  • Kondisi infrastruktur jalan utama antara kedua desa masih berupa tanah berdebu, menyulitkan akses kendaraan pengamanan.
  • Warga mengaku trauma; sebagian mengungsi ke rumah kerabat di desa tetangga, meninggalkan rumah yang ludes terbakar.
  • Pendekatan persuasif melalui tokoh adat dan agama menjadi tulang punggung upaya meredakan dendam antarwarga.
  • Posko pengamanan dilengkapi dapur umum dan layanan kesehatan darurat untuk melayani korban bentrokan.

Dendam Akibat Kesalahpahaman dan Upaya Redam Konflik

Di balik ketegangan, ada cerita pilu. Seorang ibu paruh baya di Desa Patahuwe bercerita bahwa anaknya terkena tembakan peluru angit saat mencoba memadamkan api yang menjalar ke rumahnya. “Saya hanya ingin mereka berhenti. Tanah kami terbakar, bukan untuk diperebutkan,” katanya dengan suara bergetar. Pangdam Pattimura bersama Kapolda Maluku kemudian menggelar pertemuan tertutup dengan para sesepuh desa. Mereka sepakat untuk menggelar mediasi adat dan mengaktifkan kembali pos kamling di perbatasan desa. Pasukan dari Yonif 865 dan Brimob akan bertahan di tapal batas kedua desa hingga situasi benar-benar tenteram. Tugas mereka bukan hanya mencegah bentrokan susulan, tetapi juga memulihkan kepercayaan yang retak di antara warga yang selama ini hidup berdampingan.

Di ujung jalan berdebu itu, seorang prajurit muda dari Brimob menunduk memberi minum seorang anak kecil yang ketakutan. Senyum tipis si anak membalas, cukup untuk melepas penat satu malam tanpa insiden. Inilah potret garis depan: di antara abu dan luka, ada tangan-tangan yang merajut kembali persaudaraan. Kodam Pattimura bersama aparat keamanan lainnya tidak hanya menjaga batas wilayah, tetapi juga menjaga mimpi warga perbatasan untuk hidup damai. Di lereng gunung yang membelah Seram Bagian Barat, mereka adalah penjaga gawang terakhir agar api konflik antarwarga di daerah perbatasan desa ini tidak berkobar lagi, mengorbankan lebih banyak rumah dan harmoni yang sudah dibangun puluhan tahun. Di balik seragam dan senjata, ada denyut nadi kebangsaan yang terus berdetak di ujung negeri. Mari jaga mereka, mari jaga perbatasan kita.

konflik antarwarga pengamanan TNI-Polri pemulihan kepercayaan
Tokoh: Mayjen Dody Triwinarto
Organisasi: TNI-Polri, Yonif 865, Brimob
Lokasi: Desa Lisabata, Desa Patahuwe, Seram Bagian Barat

Artikel terkait