Pagi yang lembap di Desa Sungai Apit, Kecamatan Rokan Hilir, Riau. Udara masih basah setelah hujan semalam, menyisakan aroma tanah yang khas. Dua perempuan berkerudung dan seorang perawat puskesmas bersepatu bot karet melangkah perlahan di pematang sawah yang becek. Di tangan kiri mereka, termos berisi vaksin dijaga dengan es batu agar tetap dingin; di tangan kanan, tas punggung penuh alat kesehatan. Di kejauhan, kabut tipis menyelimuti hamparan pohon sawit, sementara asap dapur warga mulai mengepul dari rumah-rumah panggung di tepi sungai. Ini adalah perjuangan kesehatan perbatasan yang ditempuh dengan langkah kaki dan semangat yang tak pernah padam – menyusuri perbatasan Riau-Sarawak demi imunisasi anak-anak di ujung negeri.
Jemput Bola di Ujung Negeri: Posyandu Tanpa Bangunan
Di desa yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, posyandu tidak memiliki bangunan permanen. Tidak ada meja panjang, tidak ada kursi plastik, apalagi atap yang teduh. Yang ada hanyalah jalan setapak berlumpur, sungai-sungai kecil yang harus diseberangi, dan komitmen dari tenaga kesehatan untuk tetap melayani. Bidan dan kader posyandu memilih strategi "jemput bola" – mendatangi satu per satu rumah panggung di tepi sungai. Mereka menenteng termos vaksin di tangan kiri dan tas punggung di tangan kanan, tubuh sesekali oleng saat melewati pematang yang licin. Imunisasi adalah prioritas yang tak bisa ditunda, meski medan terjal dan cuaca tak menentu. Berikut adalah kondisi yang ditemui di lapangan:
- Jarak tempuh dari puskesmas ke rumah warga bervariasi antara 2 hingga 5 kilometer, melewati sawah, kebun, dan jembatan bambu.
- Termos vaksin dijaga dengan es batu agar suhu tetap stabil – tidak ada listrik di beberapa titik untuk menyimpan vaksin.
- Bayi dan balita yang diimunisasi rata-rata berusia 2 bulan hingga 3 tahun, dengan jumlah kunjungan per hari hanya sekitar 4-6 anak.
- Warga lebih memilih posyandu Indonesia daripada klinik di Sarawak karena kepercayaan dan kepastian layanan gratis.
Suara dari Garis Depan: "Kami Lebih Percaya Posyandu Indonesia"
Di sebuah rumah panggung sederhana, seorang ibu muda berusia 23 tahun menggendong bayinya yang baru berusia dua bulan. Wajahnya sumringah saat bidan menyiapkan jarum suntik. "Ibu bisa pergi ke Malaysia dekat sini, tapi kami lebih percaya sama posyandu Indonesia," katanya dengan logat Melayu Riau yang kental. Bayi itu tetap diam saat jarum dimasukkan – tak ada tangis, mungkin terbiasa. Momen itu menjadi bukti bahwa meski letak geografis di perbatasan Riau-Sarawak sangat dekat, semangat nasionalisme tetap terjaga melalui pilihan warga untuk mengakses layanan kesehatan negara sendiri. Pagi itu, empat anak berhasil diimunisasi. Dari beranda rumah, pemandangan pohon sawit dan asap dapur warga menjadi latar yang kontras dengan semangat kesehatan yang diusung jarak jauh. Setiap suntikan adalah langkah kecil menuju generasi yang lebih sehat di ujung negeri.
Di balik hiruk-pikuk kehidupan perbatasan, kisah seperti ini sering luput dari perhatian. Namun, setiap langkah para tenaga kesehatan di pematang sawah dan sungai kecil adalah bukti nyata bahwa negara hadir di ujung negeri. Dengan keterbatasan infrastruktur dan sumber daya, mereka tetap melayani imunisasi dan layanan kesehatan perbatasan tanpa lelah. Semangat ini patut kita apresiasi dan dukung, agar generasi penerus di perbatasan Riau-Sarawak tumbuh sehat dan kuat, serta semakin cinta pada tanah air. Karena di setiap titik pelosok, nasionalisme tak perlu diucapkan – ia dihidupi melalui langkah kaki yang penuh pengabdian.