Laut Arafura, Minggu (30/8) pukul 05.00 WIT. Di dermaga kayu Desa Fadol, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, udara pagi menusuk tulang. Langit berwarna jingga, perlahan terbit semburat merah di ufuk timur. Ombak kecil berderak di bawah perahu motor tempel yang berjejer. Sebanyak 12 nelayan, dipimpin Bernard (55), mulai menaiki perahu mereka. Suara mesin tempel menderu, memecah kesunyian. ‘Kami harus berangkat pagi-pagi agar bisa pulang sebelum siang, karena sering ada kapal asing yang patroli,’ ujar Bernard. Dermaga itu sederhana: papan-papan lapuk, tali tambang usang, dan drum bekas sebagai pelampung. Di belakang mereka, hamparan laut biru kehijauan yang menjadi ladang rezeki, juga medan ketegangan.
Dermaga Kayu di Ujung Negeri: Keberangkatan Penuh Risiko
Perjalanan menuju titik tangkap memakan waktu sekitar satu jam. Di tengah laut, Bernard dan rekannya memasang jaring dengan gerakan cekatan. Namun, ketegangan mulai terasa ketika sebuah kapal patroli Australia melintas di kejauhan. Tanpa aba-aba, kapal itu mendekat dan memeriksa perahu mereka. ‘Kami tidak melanggar batas, tapi tetap saja diganggu,’ keluh Bernard. Pemeriksaan berlangsung singkat, tapi meninggalkan rasa cemas yang mendalam. Kondisi ini menjadi pemandangan biasa bagi nelayan perbatasan Laut Arafura. Mereka hidup dalam bayang-bayang kapal asing yang kerap melakukan patroli agresif.
- Intensitas patroli kapal asing yang memaksa nelayan beroperasi di zona yang lebih sempit.
- Ketersediaan ikan yang semakin berkurang akibat penangkapan berlebih oleh kapal asing.
- Keterbatasan teknologi dan modal perahu yang menghambat jangkauan melaut.
Ancaman Kapal Asing dan Hasil Tangkapan yang Menyusut
Setelah berjam-jam menunggu, jaring diangkat. Hasil tangkapan hanya 5 kilogram ikan kakap. Jumlah yang sangat jauh dari target mereka. Bernard menggelengkan kepala. ‘Ini sangat sedikit, tapi mau bagaimana lagi, kondisi laut semakin sulit.’ Beberapa faktor membuat hasil tangkapan terus menurun, seperti yang dirinci di atas. Di permukaan, ombak Laut Arafura tampak tenang, namun di bawahnya ada ketegangan terus-menerus antara nelayan tradisional dan aktivitas kapal asing. Realitas pahit ini menggambarkan potret garis depan perikanan Indonesia: jerih payah warga yang berhadapan dengan ancaman dan hasil yang tak sebanding.
Potret di dermaga kayu Desa Fadol adalah secuil kisah dari ribuan nelayan di Arafura yang setiap hari mempertaruhkan nyawa demi menyambung hidup. Di ujung negeri ini, semangat mereka adalah tiang bendera kebangsaan yang tak pernah runtuh. Sudah saatnya perhatian dan perlindungan negara hadir lebih nyata, agar para pejuang garis depan ini tidak lagi sendirian melawan deru kapal asing dan dinginnya ketidakpastian.