NASIONALISM

Puisi untuk Ibu Pertiwi: Lomba Baca Puisi Nasionalisme di Perbatasan Nunukan

Puisi untuk Ibu Pertiwi: Lomba Baca Puisi Nasionalisme di Perbatasan Nunukan

Lomba baca puisi nasionalisme di halaman Kantor Bupati Nunukan menjadi panggung bagi anak-anak perbatasan untuk mengekspresikan cinta tanah air. Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka menunjukkan semangat kebangsaan yang tak pernah padam. Bupati Asmin Laura menyebut momen ini bukti bahwa nasionalisme tetap hidup meski di ujung negeri.

Pagi itu, halaman Kantor Bupati Nunukan berubah menjadi panggung nasionalisme. Di atas hamparan tikar, puluhan siswa berseragam putih-merah duduk rapi membentuk barisan yang penuh semangat. Di depan mereka berdiri panggung kayu sederhana yang dihiasi bendera merah putih dan umbul-umbul yang berkibar pelan diterpa angin khas tanah Kalimantan. Udara terasa cukup terik, namun sorot mata anak-anak itu tetap berbinar menunggu giliran tampil. Hari itu, Pemerintah Daerah Nunukan menggelar lomba baca puisi bertema nasionalisme — sebuah perayaan kecil yang menyimpan makna besar bagi warga di ujung utara Republik Indonesia. Suasana di lokasi perbatasan ini terasa berbeda. Bau tanah basah bercampur aroma gedebog pisang dari kebun warga, dan suara deru mobil yang melintas dari arah pos lintas batas menjadi latar yang memperkuat kesan tepi negeri.

Gadis Kecil dan Sajak 'Dari Ujung Negeri'

Di tengah riuh rendah tepuk tangan, seorang gadis cilik bernama Salma naik ke panggung dengan langkah gemetar. Gaun putihnya tampak rapi, dan jari-jarinya mengepal erat naskah puisi. Sejenak ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu membacakan puisi karyanya sendiri berjudul 'Dari Ujung Negeri'. Lantang dan penuh penghayatan, ia bersenandung: 'Di sini di ujung timur, bendera tetap berkibar. Walau badai menerpa, hatiku tetap Indonesia.' Suaranya bergetar sata menyebut kata 'Indonesia', dan matanya pun berkaca-kaca. Beberapa hadirin ikut terharu, lalu tepuk tangan meriah menggema di halaman kantor. Di kursi barisan depan, Bupati Nunukan Asmin Laura tampak mengusap air mata haru. 'Mereka adalah bukti bahwa nasionalisme tak pernah pudar meski tinggal di negeri seberang,' ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. Bagi perempuan yang memimpin kabupaten di garis depan itu, lomba baca puisi ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang bagi anak-anak perbatasan untuk mengartikulasikan rasa cinta terhadap tanah air dengan cara mereka sendiri.

Potret Semangat dari Garis Depan

Lomba baca puisi di halaman Kantor Bupati Nunukan ini menjadi potret nyata bahwa semangat kebangsaan tidak mengenal batas geografis. Nunukan, yang berhadapan langsung dengan Sabah, Malaysia, kerap dianggap berada jauh dari pusat negeri. Namun justru dari tempat inilah muncul suara-suara kecil yang lantang menyebut nama Indonesia. Di sela-sela acara, beberapa potret lapangan terekam jelas:

  • Halaman kantor yang sederhana, jauh dari megahnya gedung pertemuan di perkotaan, menjadi saksi keberanian anak-anak tampil di depan umum tanpa rasa malu akan keterbatasan fasilitas.
  • Bendera merah putih yang dihias di panggung kayu berkibar diapit terik matahari, seolah menegaskan bahwa rasa kebangsaan tidak memerlukan kemewahan.
  • Para hadirin, mulai dari guru, orang tua, hingga pejabat daerah, duduk bersila menyatu dalam satu barisan nasionalisme — menciptakan ikatan kebersamaan yang erat di antara mereka yang tinggal di ujung negeri.
  • Anak-anak yang tumbuh di wilayah perbatasan seperti Nunukan memang akrab dengan tantangan hidup yang tidak mudah — jauhnya akses, terbatasnya fasilitas, hingga pengaruh budaya asing yang masuk dari negara tetangga kerap menjadi ujian. Namun melalui lomba baca puisi ini, mereka menunjukkan bahwa rasa cinta kepada Indonesia tidak pernah pudar.

Lomba baca puisi ini juga menampilkan beragam puisi lain yang menggambarkan kerinduan akan tanah air, keindahan alam Nusantara, serta semangat mempertahankan kedaulatan NKRI. Setiap kata yang dilantunkan bagai doa yang dipanjatkan dari garis depan, mengingatkan bahwa nasionalisme tidak hanya milik kota besar, tetapi juga tumbuh subur di pelosok Nunukan yang tepat berada di jalur perbatasan. Seperti kata seorang guru pendamping, 'Anak-anak ini setiap hari melihat langsung perbedaan antara Indonesia dan negara tetangga. Mereka tahu artinya merdeka, karena mereka hidup di batas antara dua dunia.' Semoga dari panggung kayu ini, semangat kebangsaan terus mengalir deras, menggetarkan hati setiap warga yang hadir, dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus mencintai Indonesia, bagaimanapun kondisi di ujung negeri.

lomba baca puisi nasionalisme
Tokoh: Salma, Asmin Laura
Organisasi: Pemerintah Daerah Nunukan
Lokasi: Nunukan

Artikel terkait