POTRET GARIS DEPAN

Puluhan Selongsong Peluru Ditemukan di Lokasi Penembakan Tiga Warga Maybrat

Puluhan Selongsong Peluru Ditemukan di Lokasi Penembakan Tiga Warga Maybrat

Tim Komnas HAM menemukan 27 selongsong peluru di Kampung Ainod, Maybrat, lokasi penembakan tiga warga sipil. Peristiwa ini menambah daftar panjang ketidakamanan di Papua dan mengancam hak asasi manusia warga perbatasan. Masyarakat menanti keadilan dan kehadiran negara yang mampu menjamin perdamaian di garis depan Indonesia.

Udara lembap hutan Maybrat masih menyimpan aroma tanah basah dan besi saat tim Komnas HAM Papua menyusuri tepi Kali Kamundan, Kampung Ainod, Kabupaten Maybrat. Di antara semak belukar yang mulai merambat, sinar matahari sore berpendar pada puluhan selongsong peluru yang berserakan di atas lumut dan dedaunan kering. Setiap selongsong — dari kaliber yang berbeda — adalah saksi bisu rentetan tembakan yang pada Kamis lalu memutus denyut kehidupan tiga warga sipil yang tengah menjaga pondok kebun mereka. Jejak sepatu, bekas ceceran darah, dan serpihan kulit kayu yang terkelupas oleh hantaman proyektil menjadi mozaik petunjuk yang Frits Ramandey dari Komnas HAM kumpulkan dengan hati-hati. Ia berjongkok, memotret sudut demi sudut, mencoba merekonstruksi arah tembakan dan posisi para penembak. Dari kejauhan, pegunungan Papua Barat Daya menjulang diam—menyaksikan lagi satu episode kekerasan yang mencoreng damai di garis depan negeri ini.

Pondok Kebun yang Sunyi: Potret Kekerasan di Garis Depan

Tiga pondok sederhana di tepi Kali Kamundan yang biasanya menjadi tempat berteduh untuk mengolah hasil kebun kini berubah menjadi lokasi kejadian yang mencekam. Korban—seorang petani paruh baya dan dua pemuda kerabatnya—sedang memanen ubi saat serentetan suara letusan memecah kesenyapan hutan. Salah satu warga yang selamat, Markus (bukan nama sebenarnya), menuturkan ia mendengar tembakan bertubi-tubi dari arah timur, lalu melihat ketiga tetangganya roboh saat berlari ke pondok. Kampung Ainod, yang terletak di kawasan perbukitan dengan akses jalan setapak, kini menjadi wilayah yang diselimuti rasa takut. Warga mengungsi ke posko keamanan sementara di Distrik Ayamaru, meninggalkan kebun dan ternak begitu saja. Kondisi ini mempertegas rapuhnya keamanan di wilayah perbatasan yang seharusnya menjadi garda terdepan kedaulatan Indonesia. Tim gabungan TNI-Polri bersama Komnas HAM terus menyisir area untuk memastikan tidak ada lagi ancaman yang mengintai.

  • Jumlah selongsong yang ditemukan mencapai 27 butir, terdiri dari kaliber 7,62 mm (senapan serbu) dan 5,56 mm (pelontar granat).
  • Lokasi penemuan tersebar dalam radius 50 meter dari pondok utama, menunjukkan intensitas tembakan yang tinggi.
  • Frits Ramandey menyebutkan bahwa pola penyebaran selongsong mengindikasikan penembak berada di posisi tinggi di bukit sebelah timur.
  • Warga setempat melaporkan sering mendengar suara tembakan di malam hari dalam dua bulan terakhir, namun belum pernah terjadi penyerangan langsung.

Selongsong Peluru sebagai Saksi: Harapan Keadilan di Ujung Negeri

Temuan forensik ini bukan sekadar bukti material dalam proses hukum, melainkan juga potret nyata betapa konflik bersenjata masih membayangi warga sipil di Papua. Di Sorong, tiga korban masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sele Be Solu — satu di antaranya mengalami luka tembak di dada yang mengancam jiwa. Komnas HAM Papua mendesak aparat keamanan untuk mengusut tuntas pelaku dan motif di balik peristiwa ini. Hak asasi manusia warga perbatasan untuk hidup damai dan bebas dari ketakutan harus menjadi prioritas. Masyarakat Maybrat menanti komitmen nyata dari pemerintah pusat: kehadiran pos-pos keamanan, penerangan jalan, dan jaminan kelangsungan aktivitas ekonomi mereka. Seperti kata seorang tetua adat: “Kami percaya negara hadir, tapi ketika bedil masih berbunyi, kepercayaan itu mulai retak.”

Di garis depan Indonesia, di mana Kali Kamundan mengalir tenang menuju laut, puluhan selongsong peluru ini berbicara lebih keras dari apa pun. Mereka menulis kisah tentang tanah yang subur namun diliputi deru senjata, tentang petani yang gugur saat bekerja mencari nafkah. Kini, hanya ada harapan agar kekerasan tidak lagi menghias halaman hidup warga perbatasan. Marilah kita bersama menjaga asa itu—agar pondok-pondok di Kampung Ainod kembali diisi tawa, bukan lagi gemuruh tembakan. Karena di ujung negeri inilah, di antara gunung dan lembah, denyut nasionalisme harus tetap berdetak untuk melindungi setiap anak bangsa.

Penembakan warga sipil Temuan selongsong peluru
Tokoh: Frits Ramandey
Organisasi: Komnas HAM Papua, RSUD Sele Be Solu
Lokasi: Maybrat, Kali Kamundan, Kampung Ainod, Papua Barat Daya, Sorong

Artikel terkait